Headlines News :
Home » , , » Lapar dan Menahan Nafsu

Lapar dan Menahan Nafsu

Written By Arwani Muhammad on Saturday, January 12, 2013 | Saturday, January 12, 2013

Abd al-Karim ibn Hawazinal-Qusyairi

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,(QS. 2:155) 

Anas bin Malik menuturkan bahawa ketika Fatimah ra memberikan sepotong kecil roti kepada Rasulullah saw, baginda bertanya, “Apa ini wahai Fatimah?” Dia menjawab, “Sepotong roti yang saya masak sendiri. Hati saya tidak akan tenang sebelum saya memberikan roti ini kepada ayah.”. Beliau menjawab, “Ini adalah sepotong makanan pertama yang memasuki mulut ayahmu sejak 3 hari ini.”
Dikatakan Sahl bin Abdullah hanya makan setiap 15 hari. Manakala bulan Ramadhan tiba, dia tidak makan sampai dia melihat bulan baru, dan tiap kali berbuka, dia hanya minum air saja.
Sahl bin Abdullah berpendapat, “Ketika Allah SWT menciptakan dunia, Dia menempatkan dosa dan kebodohan di dalam kepuasan nafsu makan dan minum, serta menempatkan kebijaksanaan di dalam lapar.”
Yahya bin Muadz mengatakan, “Lapar adalah latihan pecinta bagi para murid, sebuah cobaan bagi yang bertaubat, dan cobaan-derita bagi penolak dunia, dan tanda kemuliaan bagi para ahli makrifat.

Abu Ali Ad-Daqqaq menuturkan, “Seseorang datang menjumpai salah seorang syeikh, dan ketika melihat beliau menangis, dia bertanya, “Mengapa anda menangis?” Sang Syeikh menjawab, “Aku lapar.” Dia mencela, “Seorang seperti anda ini menangis kerana lapar?”
Sang Syeikh balas mencela, “Diamlah. Engkau tidak mengetahui bahawa tujuan-Nya menjadikan aku lapar adalah agar aku menangis.”

Mukhallid mengkhabarkan bahawa Al-Hajjaj bin Furafisah sedang berada bersama mereka di Syam, dan selama 50 malam dia tidak minum air ataupun mengisi perut dengan makanan apa pun.”

Abu Utsman Al-Maghribi menyatakan, “Orang yang mengabdi kepada Tuhan hanya makan tiap 40 hari, dan orang yang mengabdi pada Yang Abadi hanya makan tiap 80 hari.” Sahl bin Abdullah ditanya, , “Bagaimana pendapatmu tentang orang yang makan sekali sehari?” Dia menjawab, ‘Itu adalah makannya orang beriman.”Bagaimana dengan makan 3 kali sehari? Dia mencela, “Suruh saja orang membuat kantong makanan untuknya.”

Yahya bin Muadz berpendapat, “Lapar adalah pelita, dan memenuhi perut adalah api. Hawa nafsu adalah seperti kayu api yang darinya muncul api, yang tidak akan padam sampai ia membakar pemiliknya.”

Bertanya sang sufi, “Sudah berapa lama anda tidak makan?”
Sang Sheikh menjawab, “5 hari.”
Si sufi berkata, “Lapar anda adalah laparnya kerakusan. Anda memakai pakaian (bagus) sementara anda lapar. Itu bukanlah lapar orang miskin!”

Selama beberapa hari, Abul Khayr Al-Asqalani sangat ingin memakan ikan. Lalu sejumlah ikan sampai ketangannya melalui jalan halal. Tetapi ketika tangannya meraih untuk memakannya, sepotong durinya telah mengenai tangannya. Katanya, “Ya Allah, jika hal ini menimpa orang yang menghulurkan tangan kerana ingin memakan barang yang halal, apa pula yang akan terjadi pada orang yang menghulurkan tangannya untuk sesuatu yang haram?”

Malik bin Dinar berkata, “Syaitan takut kepada bayangan manusia yang telah menaklukkan hawa nafsu duniawi.”

Abu Ali Ar-Rudzbari mengajarkan, “Jika seorang sufi, setelah 5 hari tidak makan, mengatakan ‘Aku lapar,’ maka kirimkanlah dia ke pasar untuk memperoleh sesuatu.” Seseorang bertanya kepada Syeikh, “Apakah tuan tidak menginginkan sesuatu?” Beliau menjawab, “Aku menginginkannya, tetapi aku menahan diri.”

Syeikh yang lain ditanya, “Adakah sesuatu yang tuan inginkan?”
Jawabnya, “Aku menginginkan hilangnya keinginan. Yang terakhir ini amat mustahil.” Bisyr berkata, “Telah bertahun-tahun aku ingin makan terung, tetapi aku belum ditakdirkan untuk memakannya. Aku tidak boleh memakannya sampai aku terbebas dari keinginanku untuk memakannya.”

Abu Abdullah bin Khafif memakan sepuluh butir kismis setiap kali berbuka puasa. Abu Turab An-Nakhsyabi berpendapat, “Jiwaku tidak pernah cenderung kepada hawa nafsuku kecuali sekali: ia ingin sekali makan roti dan telur ketika aku sedang berada dalam perjalanan. Tiba aku di sebuah perkampungan, seseorang bangkit dan memegang tanganku sambil berkata, “Perompak!” Lalu orang-orang disitu memukuliku sebanyak 70 kali. Seorang laki-laki di antara mereka mengenaliku dan berkata, “Ini adalah Abu Turab An-Nakhsyabi!” Lelaki itu dengan rasa hormat membawa aku ke rumahnya dan menjamuku dengan roti dan telur. Maka aku berkata kepada diriku, “Makanlah setelah 70 kali pukul.”
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Situs-situs Terkait

Music

 
Support : Muhammad Arwani Proudly powered by Blogger
Copyright ; 2012. Agama tanpa ilmu pengetahuan akan buta - All Rights Reserved
Copright SMK Manba'ul Huda Published by Blogger