Headlines News :
Home » , » METODE PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

METODE PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

Written By Arwani Muhammad on Tuesday, December 18, 2012 | Tuesday, December 18, 2012


BAB I
METODE PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

A.    Pendahuluan
Secara etimolgis, metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu          methodos. Kata ini terdiri dari dua suku kata, yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Maka metode memiliki arti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan term method dan way yang diterjemahkan sebagai cara. Sedangkan dalam bahasa Arab kata metode diungkapkan dalam berbagai kat seperti kata al-thoriqoh, al-manhaj, dan al-washilah. Al-thariqoh berarti jalan, al-manhaj berarti system, dan al-washilah berarti mediator atau perantara.
Sedangkan secara terminology metode adalah suatu jalan yang ditempuh seseorang supaya sampai pada tujuan tertentu baik dalam lingkungan ataupun dalam perniagaan maupun dalam kaitan ilmu pengetahuan dan lainya.[1] Ada pula yang mendefinisikan bahwa metode adalah suatu cara kerja yang sistematik seperti cara kerja ilmu pengetahuan.[2]
Sedangkan pendidikan atau pengajaran itu dalam arti luas adalah suatu proses untuk mengembangkan semua aspek kepribadian manusia, yang mencakup pengetahuanya, nilai dan sikapnya serta ketrampilanya. Semua itu bertujuan untuk mencapai kepribadian individu yang lebih baik.
Jadi jika melihat masing-masing pengertian dari metode dan pendidikan, maka pengertian metode pendidikan dan pengajaran adalah suatu cara yang sistematis untuk mengembangkan segala aspek kepribadian manusia yang mencakup pengetahuanya, nilai serta sikapnya, dan ketrampilanya yang bertujuan untuk mencapai kepribadian individu yang lebih baik.
Sebagai komponen ilmu, metode dapat mengantar suatu proses pendidikan dapat mencapai tujuan pendidikanya dengan cepat dan tepat. Hal ini akan terjadi bila mana metode pendidikan dan pengajaran ini sejalan dengan substansi dan tujuan. Di samping itu metode juga harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Maka dari itu seorang pendidik harus dapat memilih metode yang tepat dengan keadaan. Untuk itu mereka dituntut untuk menguasai metode pendidikan dan pengajaran.

B.     Hadits dan Terjemahan
1.      Hadist tentang membuat mudah, gembira dan kompak
عَنِ اَنَسٍ بَنِ مَلِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ قَالَ يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا (اخرجه البخارى في كتاب العلم(
Artinya: “Permudahkanlah (manusia dalam soal-soal agama) dan jangan mempersukar mereka, dan berilah mereka kabar gembira dan janganlah mereka dibuat lari. (HR. Bukhori)[3]

2.      Hadist tentang menyampaikan perkataan yang jelas dan terang
عَنْ عَاِشَةَ رَحِمَهَااللهُ قَالَتْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ كَلاَمُ فَصْلاً يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ (اخرجه ابوداود فى كتاب الادب(
Artinya: “Dari Aisyah RA. Berkata, perkataan Rasulullah adalah ucapan fashlan (singkat dan jelas), dan dapat memahamkan orang yang mendengarnya. (HR. Abu Dawud 12/467)

3.      Hadist tentang metode cerita (kisah)
عَنْ أَبِى هُريْرةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسولَ اللهِ صَلىَّ اللهُ علَيهِ وَسَلَّمْ قال بَيْنَا رَجُلٌ يَمْشِي فَاشْتَدْ عَليهِ العَطَشُ فَنَزَل بِئْرًا فَشَرَبَ مِنْهَا ثُمَّ خَرَجَ فَاذَا هُو َبِكلْبٍ يَلْهَثُ يَأكلُ الشَّرَى مِنَ العَطُشِ فَقالَ لَقدْ بَلغَ هَذَا مِثْلُ اَّلذِي بَلغَ بيِ فَمَلَا خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ ثُمَّ رَقِيَ فَسقىَ الْكلْبَ فَشكرَ اللهُ له فَغفرَ لَهُ قَالوا يَا رَسولُ اللهِ وَاِنَّ لَنَا في الْبَهَائِمِ أَجْرًا قال فِي كُلّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ (أخرجه البخاري في كتاب المشقات(
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya rasulullah SAW bersabda: Ketika seorang laki-laki sedang berjalan-jalan tiba-tiba ia merasa sangat haus sekali kemudian ia menemukan sumur lalu ia masuk kedalamnya dan minum, kemudian ia keluar (dari sumur). Tiba-tiba datang seekor anjing menjulur-julurkan lidahnya ia menjilati tanah karena sangat haus, lelaki itu berkata: anjing itu sangat haus sebagaimana aku, kemudian masuk ke sumur lagi dan ia penuhi sepatunya (dengan air), kemudian ia (haus lagi) sambil menggigit sepatunya dan ia beri minum anjing itu kemudian Allah bersyukur kepadanya dan mengampuninya, sahabat bertanya, wahai Rasulullah: adakah kita mendapat pahala karena kita menolong hewan? Nabi SAW menjawab: disetiap yang mempunyai limpa hidup ada pahalanya. (HR. Bukhori)[4]

4.      Hadist tentang metode tanya jawab
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قالَ قالَ رَجُلٌ يَا رَسُولُ اللهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ؟ قالَ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أَبُوْكَ ثُمَّ أَدْناكَ أَدْناكَ (أخرجه مسلم في كتاب البر والصلة والأداب(
Artinya: “dari Abu Hurairah ra, Ia berkata seseorang laki-laki datang pada Rasulullah SAW, kemudian ia bertanya, wahai Rasulullah siapa orang yang paling berhak aku hormati? Beliau menjawab: Ibumu, ia berkata, kemudian siapa? Beliau menjawab: Ibumu, ia berkata, kemudian siapa? Beliau menjawab: kemudian bapakmu, kemudian saudara terdekatmu. (HR. Muslim).

5.      Hadist tentang metode diskusi
عَنْ أنَسٍ رَضيَ اللهُ عَنهُ قالَ قالَ رَسُوْلُ اللهِ صلَّى اللهُ عَليهِ وَسلَّمْ انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُوْمًا قَالُوا يا رَسولَ اللهِ هَذا نَنْصُرُهُ مَظْلوُمًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا قالَ تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ (أخرجه البخاري في كتاب الظالم والغصب(
Artinya: “dari Annas ra, berkata: Rasulullah SAW, bersabda: “tolonglah saudaramu yang dzalim dan yang didzalimi, dikatakan bagaimana jika menolong orang yang dzalim? Rasulullah menjawab: tahanlah (hentikanlah) dia dan kembalikanlah dari kedzalimannya, karena sesungguhnya itu merupakan pertolongan padanya”. (HR. Bukhari)[5]

6.      Hadist tentang alat peraga
عَنْ أَبي هُرَيرةَ قالَ قالَ رَسولُ اللهِ صلىَّ اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمْ كَافِلِ الْيَتِيْمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ وَأَشَارَ مَاِلكٌ بِالسَّبَابَةِ وَالوْسْطَى )أخرجه مسلم في الزهد والرقائق(
Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Pemelihara anak yatim, baik miliknya sendiri atau milik lainnya, saya  (Nabi s.a.w.) dan ia adalah seperti kedua jari ini di dalam syurga." Yang merawikan Hadis ini yakni Malik bin Anas mengisyaratkan dengan menggunakan jari telunjuk serta jari tengahnya. (Riwayat Muslim)

C.    Analisa Hadist
1.      Analisa Hadits pertama (Metode dengan membuat mudah, gembira dan kompak)
Hadits di atas menjelaskan bahwa proses pembelajaran harus dibuat dengan mudah dan sekaligus menyenangkan agar siswa tidak tertekan secara psikologis dan merasa bosan terhadap suasana di kelas. Serta apa yang diajarkan oleh gurunya. Dan satu pembelajaran harus menghunakan metode yang tepat disesuaikan dengan situasi dan kondisi, terutama dengan mempertimbangkan, keadaan orang yang akan belajar.
Sebagaimana dalam QS. Ali-Imran: 15
 

Terjemahnya : Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imron: 159)[6]
Dalam menempuh proses-proses pendidikan, sikap-sikap keras hendaknya dihindari. Islam mengajarkan kelemah lembutan dalam metode pendidikan agar para peserta didik tidak kabur karena Allah sendiri menghendaki kepada kemudahan.

2.      Analisa Hadist kedua (Metode dengan perkataan yang jelas dan terang)
Dari hadist tersebut menunjukan bahwa ucapan Rasulullah SAW selalu jelas dan dapat dipahami bagi setiap oarang yang mendengarkannya. Hal ini patut menjadi contoh bagi kita sebagai calon guru untuk dapat memberikan penjelasan secara detail agar anak didik dapat menerima damn memahami apa yang kita sampaikan.
3.      Analisa Hadist ketiga (Metode cerita atau kisah)
Hadits diatas menjelaskan bahwa pendidikan dengan metode cerita dapat menumbuhkan kesan yang mendalam pada anak didik, sehingga dapat memotivasi anak didik untuk berbuat yang baik dan menjauhi hal yang buruk. Bahkan kaedah ini merupakan metode yang menarik yang dilakukan Rasulullah. Teknik ini menjadikan penyampaian dari Rasulullah menarik sehingga menimbulkan minat dikalangan sahabatnya.
Allah SWT berfirman dalam surat Yusuf: 111
Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” .(Yusuff: 111)[7]
Maka jelas bahwa Al Qur’an juga menggunakan cerita untuk seluruh pendidikan dan bimbingan yang mencakup seluruh metodologi pendidikanya, yaitu untuk pendidikan mental, akal, dan pendidikan jasmani serta menaruh jaringan-jaringan yang saling berlawanan yang terdapat dalam jiwanya itu, pendidikan melalui teladan dan nasehat. Oleh karena itu cerita merupakan kumpulan bimbingan yang tidak terkirakan banyak.
Disamping itu teknik bercerita adalah satu teknik yang baik untuk menerapkan aspek pembangunan insan. Sebagai contoh aspek pembangunan insane lebih diminati dan dihayati apabila disampaikan dalam bentuk plot cerita atau drama, dibandingkan jika hanya disampaikan dalam bentuk fakta akademik. Bukti terbaik penggunaan teknik ini adalah bagaimana Al Qur’an banyak menggunakan teknik ini dalam penyampaian ajaranya, begitu juga Hadits Nabi yang turut menggunakan teknik ini.

4.      Analisa Hadist Keempat (Metode tanya jawab)
Metode tanya jawab adalah pembicaraan antara dua orang atau lebih, dalam pembicaraan tersebut mempunyai tujuan dan topik tertentu. Metode ini berusaha menghubungkan pemikiran seseorang dan orang lain, serta mempunyai manfaat bagi pelaku ( orang yang bertanya dan orang yang menjawab ).
Metode tanya jawab sering digunakan oleh Rasulullah SAW dalam mengajarkan ajaran yang dibawa kapada para saahabat. Metode ini akan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya tentang sesuatu yang tidak mereka pahami.
Firman Allah SWT :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّارِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْل الذِّكْرِإِنْ
كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya : “Dan Kami tidak mengutus sebelum kami, kecuali oarng-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. ( QS. An Nahl :43 )
Pada dasarnnya metode tanya jawab adalah tindak lanjut penyajian ceramah yang disampaikan pendidik. Dalam hal penggunaan metode ini, Rasulullah SAW menanyakan kepada para sahabat tentang penguasaan terhadap suatu masalah.

5.      Analisa Hadist Kelima (Metode Diskusi)
Diskusi pada dasarnya tukar menukar informasi dan unsure pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu. Atau untuk mempersiapkan atau merampungkan keputusan bersama. Oleh karena itu diskusi bukan debat dan perang mulut. Dalam diskusi tiap orang diharapkan member sumbangsih sehingga semua bisa paham sengan binaan bersama.
Akan tetapi dalam diskusi harus dilakukan dengan cara yang sebaik-baiknya. Seperti firman Allah dalam surat An-Nahl: 125
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl; 125)[8]
Dari ayat di atas maka sangat jelas bahwa walaupun Nabi membolehkan mendidik dengan metode diskusi, akan tetapi dalam pelaksaanya harus dilakukan tengan hikmah atupun dengan penuh bijak. Adapun tujuan diskusi itu sendiri adalah sebagai berikut:
1.      Untuk member motivasi kepada peserta didik agar dapat berkomunikasi dengan lisan.
2.      Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menggunakn pengetahuan dan informasinya yang telah dimiliki.
3.      Mengembangkan sikap saling hormat menghormati dan tenggang rasa terhadap keberagaman pendapat orang lain dalam rangka mengembangkan kecerdasan peserta didik.
4.      Hadits Abu Hurairah tentang alat peraga

  1. Analisa Hadist Keenam (Metode dengan menggunakan alat peraga)
وعن سهلِ بن سعدٍ رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «أَنَا وكافلُ الْيتِيمِ في الجنَّةِ هَكَذَا » وأَشَار بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى ، وفَرَّجَ بَيْنَهُمَا » . رواه البخاري. و « كَافِلُ الْيتِيم » : الْقَائِمُ بِأُمُورِهِ .
Dari Sahl bin Sa'ad r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam syurga seperti ini." Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan merenggangkan antara keduanya itu." (Riwayat Bukhari)

Metode menggunakan alat peraga dalam pengajaran, memegang peran penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar yang ditandai dengan beberapa unsur, terutama alat. Karena alat tersebut selain dapat digunakan untuk motivasi, tetapi dapat juga meningkatkan efektifitas hasil belajar.[9]
Adapun Fungsi dan nilai alat peraga adalah sebagai berikut:
1.      Sebagai alat bantu untuk mewujudkan proses belajar mengajar yang efektif
2.      Penggunaan alat peraga merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar. Ini berarti bahwa alat peraga merupakan salah satu unsure yang harus dikembangkan oleh guru.
3.      Alat peraga dalam pengajaran penggunaanya integral dengan tujuan dan isi pelajaran.
4.      Penggunaan alat peraga tidak hanya sekedar hiburan ataupun pelengkap, akan tetapi salah satu media untuk memudahkan pemahaman.


BAB II
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Metode pendidikan dan pengajaran adalah suatu cara yang sistematis untuk mengembangkan segala aspek kepribadian manusia yang mencakup pengetahuanya, nilai serta sikapnya, dan ketrampilanya yang bertujuan untuk mencapai kepribadian individu yang lebih baik. dalam proses pendidikan itu sendiri mempunyai peran yang sangat penting, karena metode ini merupakan sebuah cara yang digunakan untuk mewujudkan sebuah tujuan pendidikan.
Adapun metode pendidikan imi bermacam-macam. Berikut ini adalah beberapa metode yang ditawarkan Nabi untuk digunakan dalam proses pembelajaran.
  1. Metode dengan membuat mudah, gembira dan kompak
  2. Metode dengan perkataan yang jelas dan terang
  3. Metode tanya jawab
  4. Metode cerita atau kisah
  5. Metode diskusi
  6. Metode dengan menggunakan alat peraga
Dari beberapa metode di atas, semuanya mempunyai keunggulan tersendiri sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Untuk itu keberhasilan dalam proses belajar mengajar juga tak luput dari ketepatan dalam memilih metode yang sesuai dengan situasi \dan kondisi yang ada.

B.     PENUTUP
Demikian makalah yang kami buat. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua dalam pemahaman dan pengetahuan kita tentang metode-metode pendidikan yang Nabi ajarkan pada kita (melalui Hadits). Namun sebagai manusia biasa yang masih jauh dari kesempurnaan, kami sadar masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalh ini. Untuk itu kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan demi perbaikan makalah kami selanjutnya agar lebih baik.



[1] Ismail SM, Strategi Agama Islam Berbasis PAIKEM, (Semarang: Rasail Media Group, 2008), hlm. 7
[2] Zakiah Darajat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1985), hlm. 1
[3] Imam Az Zabidi, Ringkasan Shahih Al Bukhari, Terj. Cecep Syamsul Hari dan Thalib Anis, (Bandung: Mizan, 1997), cet 1, hlm. 33
[4] Ahmad Soenarto, dkk, Terjemah Shohih Bukhari, (Semarang: CV. As-Syifa, 1993), hlm. 30
[5] Ahmad Toha, Terjemah Shahih Bukhari 1, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986), hlm. 80
[6] Departement Agama RI, Al Quran dan Terjemahannya, Bandung: SYGMA, 2005
[7] Departement Agama RI, Al Quran dan Terjemahannya, Bandung: SYGMA, 2005
[8] Departement Agama RI, Al Quran dan Terjemahannya, Bandung: SYGMA, 2005
[9] Zakiah darajat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jkararta: Bumi Aksara, 2001), cet. 2, hlm. 226
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Situs-situs Terkait

Music

 
Support : Muhammad Arwani Proudly powered by Blogger
Copyright ; 2012. Agama tanpa ilmu pengetahuan akan buta - All Rights Reserved
Copright SMK Manba'ul Huda Published by Blogger