Headlines News :
Home » , » DOSA – DOSA BESAR DAN TAUBAT

DOSA – DOSA BESAR DAN TAUBAT

Written By Arwani Muhammad on Saturday, December 22, 2012 | Saturday, December 22, 2012

DOSA-DOSA BESAR DAN TAUBAT

A.           PENDAHULUAN
Di dalam ajaran Islam, dikenal adanya dosa besar dan dosa kecil. Namun tidak didapati dalam al-Qur’an dan Hadits tentang kesalahan apa saja yang dapat dikategorikan dosa besar dan dosa kecil.  Hadits yang merupakan sumber hukum kedua setelah al-Qur’an, sebagaimana fungsi hadits diantaranya  sebagai penjelas al-Qur’an, tidak menjelaskan semua itu, justru yang terungkap hanya dosa-dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar.
Kita sebagai manusia pastilah pernah melakukan kesalahan dan dosa, maka hendaknya segeralah melakukan taubat, karena Allah swt senantiasa bersedia memberi ampunan setiap waktu dan menerima taubat setiap saat.
Untuk itu dalam pembahasan makalah ini kami akan menyajikan bahan diskusi yang berjudul Dosa Besar dan Taubat, kami akan memaparkan tentang hal yang berkaitan dengan  dosa besar dan taubat, hadits tentang dosa besar, dan taubat.
Dari sekilas uraian di atas, penulis dapat merumuskan permasalahan  pembahasan ini adalah :
1.         Apakah pengertian dosa besar,
2.         Apakah pengertian tentang taubat,
3.         Adakah hadits yang menjelaskan tentang  dosa besar,
4.         Adakah hadits yang menjelaskan tentang perintah taubat.

B.            HADITS TENTANG DOSA BESAR DAN TAUBAT
1.        Hadits tentang dosa besar
Hadits pertama.
عن أنس رضي الله عنه قال سئل النبي صلى الله عليه وسلم عن الكبائر قال الإشراك بالله و عقوق الوالدين و قتل النفس و شهادة الزور.  ( رواه البخاري)
Artinya : Dari Anas r.a Nabi Muhammad ditanya dari dosa-dosa besar, Nabi Muhammad menjawab menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, membunuh orang dengan tidak ada alasan yang benar dan saksi yang palsu”. ( HR. Al Bukhori )[1]
Hadits kedua.                                                              
عن أبي هريرة رضي الله عنه،عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (اجتنبوا السبع الموبقات). قالوا: يا رسول الله: وما هن؟ قال: الشرك بالله، والسحر، وقتل النفس التي حرم الله إلا بالحق، وأكل الربا، وأكل مال اليتيم، والتولي يوم الزحف، وقذف المحصنات المؤمنات الغافلا          ( رواه البخاري)

Artinya : “Dari Abi Hurairah r.a Nabi Muhammad bersabda  jauhilah kamu sekalian tujuh perkara yang merusak. Sahabat bertanya wahai Rasulullah dan itu apa?, rasul menjawab : “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh orang yang telah diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, memakan riba, makan harta bendanya anak yatim, berpaling pada hari pertempuran (lari), menyangka seorang perempuan mukmin berzina.” (HR. Al Bukhori).






2.        Hadits tentang taubat
Hadits pertama.
عن أبي بردة عن رجل من المهاجرين يقول سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقزل ياأيها الناس تويوا إلى الله واستغفروه فإني أتوب إلى الله و أستغفروه في كل يوم مائة مرة أو أكثر من مائة مرة.     (رواه أحمد)

Artinya : “Dari Abi Burdah dari seorang laki-laki dari sebagian sahabat Muhajirin beliau mengatakan kami telah mendengar Nabi Muhammad bersabda “Wahai ingatlah manusia, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah dan mohonlah pengampunan kami sekalian kepada-Nya, maka sesungguhnya kami bertaubat kepada Allah dan kami mohon pengampunan kepada-Nya pada tiap hari 100 kali atau lebih”. ( HR. Ahmad )

Hadits kedua.
عن أبي هريرة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم؛ أنه قال, قال الله عز وجل: أنا عند ظن عبدي بي  وأنا معه حيث ذكرني  والله! لله أفرح بتوبة عبده من أحدكم يجد ضالته بالفلاة  ومن تقرب إلي شبرا، تقربت إليه ذراعا ومن تقرب إلي  ذراعا، تقربت إليه باعا وإذا أقبل إلي يمشي، أقبلت إليه أهرول 
  .( رواه مسلم )
Artinya : “Dari Abu Hurairah r.a,  dari Rasulullah saw, beliau bersabda : “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Aku menurut dugaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya ketika ia ingat kepadaKu. Demi Allah, sungguh Allah lebih suka kepada taubat hambaNya dari pada salah seorang di antaramu yang menemukan barangnya yang hilang di padang. Barangsiapa vang mendekatkan diri kepadaKu sejengkal maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta. Dan barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaKu sehasta, maka Aku mendekatkan diri kepadanya satu depa. Apabila ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari kecil ”.  ( HR. Muslim )
 Hadits ketiga.
عن عبد الله بن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم  قال إن الله عز و جل ليقبل توبة العبد ما لم يغرغر. (رواه إبن ماجه)
Artinya : “Dari Abdullah bin umar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama (ruh) belum sampai di tenggorokan”. (HR. Ibnu Majah )


C.      PEMBAHASAN MASALAH TENTANG DOSA BESAR DAN TAUBAT

1.    Pengertian Dosa Besar.
Dalam kamus bahasa Indonesia kata “dosa besar”  terdiri dari dua kata yaitu: dosa dan besar. Dosa adalah perbuatan yang melenggar hukum Tuhan atau agama, perbuatan salah.[2] Dan besar adalah lebih dari ukuran sedang(tinggi, luas, lebar, banyak, hebat, kuasa, mulia, dsb)[3] Tetapi besar apabila di hubungkan dengan kata dosa  maka berarti; dosa yang mengenai perkara yang besar(berat). Jadi dosa besar adalah perbuatan yang melenggar hukumTuhan atau agama yang berkaitan dengan perkara yang besar(berat).

Menurut terminologi makna dosa besar ( kabaair )
الكبيرة هي الموجبة للحد، وقيل ما يلحق الوعيد بصاحبه بنص كتاب أو سنة
“Dosa besar adalah sesuatu yang mengkonsekuensikan adanya hadd. Dikatakan pula, segala sesuatu yang menetapkan adanya ancaman bagi pelakunya berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah” [Fathul-Baariy, 12/183].

" كل ذنب أطلق عليه بنص كتاب أو سنة أو إجماع أنه كبيرة أو عظيم أو أخبر فيه بشدة العقاب أو علق عليه الحد أو شدد النكير عليه فهو كبيرة "
Setiap dosa yang telah dimutlakkan dengannya melalui Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ bahwasannya ia sebagai dosa besar dengan lafadh kabiirah atau ‘adhiim; atau dikhabarkan padanya dengan kerasnya siksa (bagi pelaku); atau dikaitkan padanya hadd; atau kerasnya pengingkaran; maka itu semua adalah dosa besar” [idem].
Sehingga dapat di katakan bahwa semua perbuatan yang  mennadapat ancaman, siksaan di neraka, di laknat oleh Allah yang telah di sebut oleh al-Quran atan as Sunnah disebut dosa besar.
2.         Hadits Tentang  Dosa Besar
Hadits pertama.
Hadits Anas tentang menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh tanpa alasan yang dibenarkan, dan saksi palsu.

Dari hadits diatas dapat  sebut sebagai dosa terbesar,  yang dapat diuraikan sebagai berikut :
1.         Syirik,  yaitu menyekutukan Allah baik mengenai dzat-Nya, sifat-Nya dengan sesuatu atau makhluk-Nya (  syirik akbar ), pada syirik ini dosanya tidak memperoleh ampunan dari Allah.
2.         Durhaka kepada orang tua, yang dimaksud durhaka kepada orang tua adalah bermaksiat kepada kedua orang tua  (kecuali untuk perbuatan yang melanggar syariat ).
3.         Membunuh orang tanpa alasan yang dibenarkan. Allah menciptakan makhluk-Nya dengan segala hal dan kewajiban-Nya, termasuk hak untuk hidup, sehingga pembunuhan sebagai penghilangan hak seseorang untuk hidup, maka seseorang diharamkan untuk membunuh orang lain tanpa adanya alasan yang benar.
4.         Kesaksaksian palsu. Islam mengajarkan kepada kita agar selalu bersifat jujur, karena dengan kejujuran itulah hidup kita akan tenang dan tentram, tidak dikejar-kejar rasa takut. Sebuah kesaksian palsu dapat merugikan orang lain.
Hadits kedua
  Hadits Abu Hurairah tentang tujuh  macam dosa besar.
Hadits yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah di atas , menyebuntukan bahwa tujuh golongan  yang termasuk dosa besar, karena dapat merusak dirinya sendiri atau orang lain, perbuatan itu adalah :
1.    Syirik (menyekutukan) Allah. 
2.    Sihir. Yang dimaksud sihir disini ialah suatu tata cara yang bertujuan untuk merusak atau menghancurkan orang lain dengan jalan minta bantuan syetan.
3.    Membunuh orang yang telah diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak. Yang dimaksud di sini adalah membunuh seorang muslim dengan sengaja, bukan karena suatu hukuman tertentu seperti qishas atau rajam.
4.    Memakan riba. Memakan riba adalah mengambil sesuatu yang bukan haknya sekaligus merugikan orang lain.
5.    Makan harta benda anak yatim. Memakan harta anak yatim termasuk perbuatan yang dilaknat oleh Allah. Perbuatan memakan harta anak yatim biasanya juga dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Yang saya maksudkan disini ialah oleh pihak wali dan penanggung jawab, karena disamping dia yang dipercaya, juga karena tidak ada pihak lain yang menjadi lawannya selain anak yatim itu sendiri. Sementara si anak masih terlalu kecil untuk mengerti permasalahan.
6.    Berpaling pada hari pertempuran (lari). Lari pada waktu perang merupakan perbuatan yang dapat membahayakan diri sendiri atau orag lain, padahal Islam telah menganjurkan untuk berjihad, menjadi seorang suhada’. orang ini termasuk yang dilaknat oleh Allah nantinya.
7.    Menyangka seorang perempuan mukmin berzina. Menuduh orang wanita mukmin yang berzina tanpa bukti yang dibenarkan dapat menimbulkan fitnah,  yang juga bisa berakibat kepada psikologi diri perempuan tersebut, keuarga serta masa depannya.
3.    Pengertian taubat
Kata “taubat” yang sudah menjadi kosa kata bahasa Indonesia berasal dari kata bahasa arab. Didalam kamus besar bahasa Indonesia, kata “taubat” mengandung dua pengertian. Pertama, taubat berarti sadar dan menyasali dosanya (perbuatan salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatannya. Kedua, kata taubat berarti kembali kepada agama (jalan) yang benar. “Bertaubat” berarti menyadari, menyesali, dan berniat hendak memperbaiki (perbuatan yang
salah).
Dalam bahasa Arab kata Taubat, menurut bahasa berasal dari kata  (Taba- Yatubu-Taubatan)  yang artinya kembali. Secara istilah taubat  berarti kembali kepada perbuatan dengan melepaskan segala ikatan penyimpangan yang pernah dilakukan, kemudian bertekad untuk melaksanakan semua hak-hak Allah SWT.
Hakikat taubat adalah  menyesal terhadap apa yang telah terjadi,meninggalkan perbuatan tersebut saat ini juga, dan ber-azam yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut dimasa yang akan datang.
اقْتَرَفَهُ مَا اْلإِنْسَانُ يُعَاوِدَ أَلاَّ عَلَى وَالْعَزْمُ وَاْلإِقْلاَعُ وَالنَّدَمُ اْلإِعْتِرَافُ : التَّوْبَةُ
seseorang dikatakan bertaubat, kalau ia mengakui dosa-dosanya, menyesal, berhenti dan berusaha untuk tidak mengulangi perbuatan itu).[4]
Dengan demikian taubat dapat diartikan sebagai perbuatan yang  kembali dari perbuatan salah / maksiat menuju perbuatan yang  taat dengan tidak mengulangi kembali, serta menyesali perbuatan dosanya itu.

4.    Hadits Tentang Taubat
Hadits pertama
 Hadits Abi Bardah tentang beristighfar 100 kali sehari.
Manusia adalah insan yang tempatnya salah dan lupa, banyak kesalahan yang kita lakukan, baik secara sengaja maupun tidak, kita sadari atau tidak. Langkah kita, anggauta badan kita banyak sekali melakukan kesalahan maupun  dosa, untuk itu diabjurkan untuk bersegeralah untuk melakukan taubat. Sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah segera minta maaf, oleh sebab itu menurut hadits di atas kita dianjurkan untuk beristighfar 100 kali atau lebih.
Dalam hadits ini pula dapat diambil iktibar yaitu adanya perintah untuk melaksanakan perintah dari Allah dan RasulNya, sehingga memperoleh kenikmatan dunia akhirat, serta untuk menteladani sifat Nabi Muhammad saw  yang sudah dipastikan ma’shum itupun masih meminta ampunan atas kesalahan, apalagi kita sebagai manusia awam yang penuh dengan dosa.


Hadits kedua
Hadits Abi Hurairah tentang Allah gembira terhadap hamba-Nya yang bertaubat.
Hadits tersebut memberikan pengertian kepada kita bahwa kecintaan Allah terhadap taubat seorang hamba lebih besar dari kegembiraan seseorang menemukan barangnya yang hilangdan Allah selalu menerima taubat  kapanpun serta Allah selalu memberikan kelebihan (pahala) bagi mereka yang berbuat taubat serta kegembiraan Allah melebihi kebahagiaan orang yang menemukan barangnya yang hilang di tengah padang pasir. Dengan kata lain Allah mengajurkan untuk segera bertaubat karena selain dapat mengurangi nilai dosa bertaubat juga sebagai ibadah  sehingga memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Hadits ketiga
Hadits dari Anas r.a. tentang orang yang taubat terlambat.
Hadits tersebut  memberi pengertian bahwasanya Allah akan menerima taubat seseorang kapanpun selagi belum meninggal. Kalimat “sebelum ruh sampai di tenggorokan” mempunyai arti bahwa Allah akan menerima taubat selama masih si dunia. Hal ini juga dapat diartikan bahwa selambat – lambatnya Allah menerima taubat manusia di tolereansikan sampai mendekati ajal. Sehingga apabila sudah meninggal sudah tidak ada lagi diterima taubat.




D.  PENUTUP
Manusia adalah makhluk yang dibekali dengan nafsu dan dorongan-dorongan jiwa untuk berbuat memenuhi kesenangan dirinya. Hal ini tentu saja memberi potensi kepada manusia untuk melakukan hal-hal yang merupakan larangan-larangan Allah. Karena jika nafsu yang menjadi penggerak segala tindak-tanduknya itu berarti kebodohanlah yang telah mengendalikannya dan hal itu merupakan perbuatan yang melampaui batas. Namun sangat disayangkan banyak yang bergelimang dari dosa ini - karena kebodohannya - merasa dosanya tidak dapat diampuni oleh Allah. Tipu daya setan ini justru semakin menjerumuskan mereka ke dalam jurang dosa yang lebih dalam dari sebelumnya dengan terus-menerus berbuat dosa dan putus asa dari ampunan Allah. Allah memberitahukan kepada hamba-hambanya agar tidak berputus asa dari ampunan dan rahmat Allah karena Allah mengampuni semua dosa apa pun bentuk dan berapa pun besarnya. Tentunya dengan memenuhi syarat-syarat taubat yang antara lain adalah agar taubat itu dilakukan sebelum ditutupnya pintu taubat dengan datangnya ajal atau azab atau datangnya kiamat yang ditandai dengan terbitnya matahari dari barat. Berikut ini beberapa poin penting yang dapat kita ambil hikmahnya dari ayat-ayat di atas.
Larangan berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah. Karena putus asa itu merupakan salah satu senjata setan untuk menyesatkan manusia dan merupakan sifat orang kafir.
Allah mengampuni semua dosa apa pun bentuk dan berapa pun besarnya.
Termasuk syarat taubat adalah kembali kepada Allah dan berserah diri kepadanya dengan memeluk Islam tentunya. Karena tidak mungkin berserah diri kepada Allah tanpa menjadi Muslim. Hendaklah hal itu dilakukan sebelum azab datang menimpa karena taubat dan penyesalan pada saat azab datang tidak lagi berguna untuk menolong seseorang.
Perintah untuk mengikuti dan mematuhi sebaik-baik yang diturunkan Allah kepada hamba-Nya yaitu Alquran sebelum datangnya azab menimpa pada saat kita tidak menyadarinya.

                                   DAFTAR PUSTAKA
                                                         
 Al-Imam Zainudin Ahmad bin Abdul Latif Az-zabidi, , Ringkasan Hadits Sahih Bukhari, diterjemahkan oleh Achmad Zaidun dari  Mukhtashar Sahih Al-Bukhari, Jakarta : Pustaka Amani, 2002, cet,1
 Syamsudin Adz-Dzahabi, 75 Dosa besar, disadur oleh M. Ladzi Syafoni dari Al-akbar, Surabaya : Media Idaman, 1987, cet. 1
 Ibnu Hajar Al-Asqalani, Terjemah Lengkap Bulughul Maram, diterjemahkan oleh Abdul Rosyad Siddiq dari Bulughul Maram Min Adillat Al-Ahkam, Jakarta : Akbar Media Eka Sarana, 2009, cet. 2
Muhammad  Al-Utsaimin,Syarah Riyadhu Ash-Shalihin (Jilid 1), diterjemahkan oleh Munirul Abidin dari Syarah Riyadhus Shalihin (Jilid 1), Jakarta: PT. Darul Falah, 2006, cet. 2
Purwadarmanto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1999, cet. XVI


[1] A. Hasan Asy’ari Ulama’i, Hadis-hadis Pendidikan Mental Islami (Semarang:Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo,2008),hlm.118
[2] Purwadarmanto, Kamus Umum Bahasa Indonesia,(Jakarta:Balai Pustaka, 1999) cet. XVI, hlm.258
[3] Ibid, hlm. 130-131
[4] Syamsudin Adz-Dzahabi, 75 Dosa Besar, disadur oleh M. Ladzi Syafoni dari Al Akbar, (Surabaya: Media Idaman, 1987), cet. 1 hlm. 29-30
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Situs-situs Terkait

Music

 
Support : Muhammad Arwani Proudly powered by Blogger
Copyright ; 2012. Agama tanpa ilmu pengetahuan akan buta - All Rights Reserved
Copright SMK Manba'ul Huda Published by Blogger