Headlines News :
Home » , » SILATURRAHMI

SILATURRAHMI

Written By Arwani Muhammad on Wednesday, December 19, 2012 | Wednesday, December 19, 2012

I.                   PENDAHULUAN
Nabi Muhammad saw. Merupakan teladan bagi setiap umat manusia dimana setiap gerak geriknya mulai dari ucapan, perbuatan maupun ketetetapannya semua menjadi tuntunan dan sumber ajaran Islam kedua setelah al-qur’an.
Adapun diantara anjuran dan ajakan Nabi Muhammad terhadap umatnya yaitu ada silaturrahim atau yang dalam bahasa Indonesia sering dikenal dengan istilah silaturahmi yang dimana silaturahmi sering diartikan denganmenyambung tali kasih sayang antara sesama karib kerabat , tetapi juga mencakup masyarakat yang lebih luas.
Kemudian dengan kita senantiasa menjalin silaturrahmi maka akan dapat memelihara hubungan yang baik antar sesama anggota keluarga maupun masyarakat luas sebab menjaga silaturrahmi juga dimasukkan Allah SWT menjadi salah satu sifat orang-orang yang mempunyai perangai mulia dan amal sholeh.
Sehingga kita sebagai muslim yang taat dan bertaqwa sangatlah wajib hukumnya bagi kita untuk senantiasa menjaga tali persaudaraan diantara kita umat Islam karena dengan senantiasa kita menjaga tali silaturrahmi maka juga akan mempermudah dalam memenuhi kebutuhan kita dalam hidup bermasyarakat.
Maka dari itu dalam makalah ini akan menguraiakan tentang hadits-hadits Nabi yang berkenaan dengan silaturrahmi sebagai media pemersatu umat.
  1. II.  RUMUSAN MASALAH
    1. Apa Pengertian dari Silaturrahmi ?
    2. Bagaimana Penjelasan Hadits tentang Perintah Silaturrahmi ?
    3. Bagaimana Keterangan Hadits Perihal Larangan Memutus Tali Kasih ?
    4. Apa Saja Bentuk dan Manfaat dari Silaturrahmi ?
  1. III.  PEMBAHASAN
    A.    Pengertian Silaturrahmi
Silaturrahmi adalah istilah yang cukup akrab dan popular di dalam pergaulan umat Islam sehari-hari, namun pada hakekatnya istilah tersebut merupakan bentukan dari bahasa Arab dari kata silaturrahim,dan istilah silaturrahim ini berasal dari dua kata yakni : Shilah yang berarti hubungan atau sambungan dan rahim yang memiliki arti peranakan.[1]
Istilah-istilah tersebut merupakan sebuah symbol hubungan baik penuh kasih sayang antar karib kerabat yang asal usulnya berasal dari satu rahim. Disini dikatakan simbol karena rahim atau peranakan secara materi tidak bisa disambung atau tidak bisa dihubungkan dengan rahim lain.dengan kata lain, rahim yang dimaksud disini adalah qarabah atau nasab yang disatukan oleh rahim ibu, dimana hubungan antara satu dengan yang lain diikaat dengan hubungan rahim.
Maka dari uraian tersebut dapat difahami bahwa pemaknaan terhadap istilah silaturrahim cenderung pada hubungan kasih sayang yang terbatas pada hubungan-hubungan dalam sebuah keluarga besar atau qarabah.
Dengan demikian istilah silaturrahim dengan istilah silaturrahmi memiliki maksud pengertian yang sama namun dalam penggunaan bahasa Indonesia istilah silaturrahmi memiliki pengertian yang lebih luas, karena penggunaan istilah ini tidak hanya terbatas pada hubungan kasih sayang antara sesama karib kerabat, akan tetapi juga mencakup pengertian masyarakat yang lebih luas. Kemudian mengadakan silaturrahmi dapat diaplikasikan dengan mendatangi famili atau teman dengan memberikan kebaikan baik berupa ucapan maupun perbuatan.[2]
B.    Hadits-Hadits yang berkaitan dengan Perintah Silaturrahmi
Silaturrahmi atau dapat diartikan menyambung tali kasih sayang adalah merupakan bagian dari kebutuhan setiap makhluk hidup dan yang lebih utamanya disini adalah manusia. Karena manusia merupakan “Makhluk Sosial” yakni makhluk yang membutuhkan hidup bersama hal ini terbukti dengan adanya dalam memenuhi kebutuhannya manusia tidak mampu sendirian meskipun pada saat sekarang ini tekhnologi sudah sangat mengalami perkembangan dan kemajuan,oleh karena itu maka tidak bias dipungkiri lagi bahwa manusia harus senantiasa menjaga hubungan yang baik dengan orang lain.
Kasih sayang merupakan sifat Allah yang sangat banyak disebutkan dalam al-qur’an. Dengan demikian maka kita sebagai manusia  yang taat, percaya dan bertaqwa kepada-Nya, tentu harus berupaya untuk meneladani sifat keutamaan Allah tersebut dalam menjalani kehidupan, karena sesuai janji-Nya, Allah akan menjadikan kasih sayang ada di dalam hati orang-orang beriman dan beramal sholeh.[3]
Sebagaimana firman-Nya dalam surat Maryam ayat 96 sebagi berikut :
اِنَّ الذِيْن امَنُو وَعَمِلُ الصَّلحَاَتِ سَيَجْعلُ لَهُم الرَّحْمَاُنُ وُدَّ
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, yang Maha Rahman (Allah SWT) akan mengadakan perasaan kasih sayang bagi sesamanya
Dimana dari ayat tersebut dapat kita fahami secara logika bahwa setiap mukmin seharusnya hidup berdampingan dengun penuh kasih, karena Allah SWT telah member masing-masing manusia sifat kasih saying, namun di dalam realitanya pada masa sekarang adalah penuh dengan permusuhan, pertikaian, perselisihan, dan sifat-sifat tidak terpuji lainnya, hal itu mencerminkan betapa minimnya sifat kasih sayang pada masa sekarang ini.
Sedangkan Islam dalam berbagai ayat al-qur’an maupun hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam juga telah banyak menganjurkan akan  pentingnya kasih sayang terhadap sesama, serta melarang sifat yang berbau permusuhan dan pertikaian.
Oleh karena itu Allah sangat menjunjung tinggi orang yang memiliki sifat kasih saynang terhadap sesama, karena jika seseorang telah memiliki sifat kasih sayang terhadap sesamanya, maka Allah akan mengasihinya dan kasih sayang Allah SWT tersebut akan diletakkan dihati para Malaikat dan semua anak Adam, sehingga para Malaikat dan semua anak manusia akan mengasihi orang yang memberikan kasihnya kepada orang lain dan begitu pula sebaliknya.[4]
Dengan demikian maka menyambung tali silaturrahmi akan dapat menjadi sarana kelapangan rizki dan panjangnya umur. Hal itu sebagaimana hadits Nabi :
عَنْ اِبْنِ شِهَا بٍ قَا َلَ : اَخْبَرَنِي َاّنسِ بْن ماَ لِكْ اَنَّ رَسُول لله ص م قاَ لَ : مِنْ اَحَبَّ اَنْ يُبْسَط لَهُ فيِ رِزْقِهِ وَىُيْنساَءَ لَهُ فيِ اَثُرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (متفق عليه)[5]
Artinya : dari Ibnu Syihab, dari Annas bin Malik berkata bahwa sesungguhnya  Rasulullah saw bersabda : barang siapa ingin dilapangkan rizkinya dan ditangguhkan atau dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung tali kasih dengan keluarganya.(H.R. Bukhori Muslim)
Dari kutipan hadits tersebut dapat difahami bahwa bahwa menyambung tali persaudaraan atau kekeluargaan akan mendatangkan kelapangan rizki dan panjang umur.
Di lapanghkan rizki dari kutipan hadits tersebut dapat difahami secara obyektif, karena salah satu modal untuk mendapatkan rizki adalah dengan kita berhubungan baik dengan sesama manusia, peluang-peluang bisnis misalnya akan terbuka dari banyaknya hubungan kita dengan masyarakat luas, bahkan jika kita lihat pada realita sekarang kepercayaan rekanan bisnis adalah lebih diutamakan daripada yang lainya.
Sedangkan maksud dari pengertian dipanjangkan umur bias dalam pengertian sebenarnya yakni ditambah umurnya dari yang sudah ditentukan Allah SWT atau dipanjangkan umurnya disini hanya sebatas dalam pengertian simbolis, yang menunjukkan bahwa umur yang mendapat taufiq dari Allah SWT sehingga berkah dan bermanfaat bagi umat manusia sehingga namanya akan abadi dan akan senantiasa dikenang dalam waktu yang lama.[6]
Meskipun menyambung bukanlah sekedar mengimbangi kebajikan yang telah dilakukan oleh sanak keluarga akan tetapi penyambung tali kekeluargaan adalah orang yang ketika ada keluarga yang karena suatu sebab seseorang tersebut memutuskan hubungan kekeluargaan dengannya, dia sanggup dan bersedia untuk memperbaiki dan menyambung tali yang telah diputuskan tersebut.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim dikatakan bahwa rahim atau kasih sayang dalam arti lain kekeluargaan itu sudah tergantung di Arsy, dimana siapa yanag menyambungnya dengan dia maka Allah pun akan menyambungnya dan begitu pula sebaliknya siapa yang memutuskan Allah Allah juga akan memutusnya.[7] Dan bunyi hadits tersebut yaitu :
عَنْ عَا ئِشَهَ رَ ضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِي ص م قَا لَ : الرَّحِمُ مُعَلّقَةُ بِااْلعَرْشِ تَقُولُ : مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللهُ, وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ الله (متفق عليه)
Artinya : Dari Aisyah r.a dari Nabi saw bersabda : Rahim atau kekeluargaan itu tergantung di Arsy. Rahim itu berkata : barang siapa menyambungku Allah akan menyambungnya, dan barang siapa memutusku maka Allah akan memutuskan hubungan dengan dia. (H.R. Bukhari dan  Muslim).[8]
Ketika seorang umat mengupayakan dirinya untuk memutuskan tali silaturrahmi maka akan hilanglah keharmonisan sebuah persahabatan atau persaudaraan, sehingga yang tinggal hanyalah kegalauan dalam hidup karena ketika dia putuskan hubungan dengan keluarga maka Allah pun akan memutuskan hubungan dengannya.
Ketika Allah sudah memutuskan hubungan dengan hamba-Nya maka tidak ada yang terjadi dalam diri hamba tersebut kecuali penderitaan, namun jika seorang hamba memiliki hubungan yang harmonis dengan Allah sebagi pencipta dan pemiliknya maka hanya kebahagiaan dan ketentraman yang dia rasakan, oleh karena itu maka tidak heran jika suatu ketika seorang sahabat meminta kepada Nabi untuk ditunjukkan terhadap amalan yang dapat memasukkan kesurga, dan Nabi pun mengatakan bahwa salah satunya adalah menyambung tali persaudaraan. Adapun bunyi Haditsnya adalah sebagai berikut :
عَنْ اَبِي اَيوُبَ خاَ لِدِ ابْنِ زَيْدٍ الاَنْصَا رِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَا لَ : َانَّ رَجُلًا قَا لَ : يَا َرسُو لَ لله َاخْبِرنِي بَعْملُ يدْخِلْنِي اْلجنَّةَ فَقَالَ النَّبِي ص م : تَعبُدُاللهَ وَلَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْاءً وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكاَةَ وَتَصِلَ الرَّحِمِ (متفق عليه)
Artinya : Dari Ayyub Khalid bin Zaid Al- Anshariy ra. Ia berkata :  ada seseorang bertanya kepada Rasulullah : “ Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku amal yang dapat memasukkanku kedalam surga. “ Nabi saw menjawab : “ sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya, dirikanlah salat, bayarlah zakat, dan sambunglah tali kekerabatan.”[9] (H.R. Bukhari dan Muslim)
Maka dari kutipan hadits riwayat Bukhari dan Muslim diatas  dengan jelas dapat kita fahami bahwa secara tegas Nabi menyampaikan bahwa silarurrahmi termasuk amalan yang dapat memasukkan seseorang kedalam surga Allah, apabila orang tersebut beriman,mendirikan shalat, dan memberikan hak fakir miskin dengan mengeluarkan zakat.
C.    Keterangan-keterangan Hadits Perihal Larangan Memutus Tali Kasih
Nabi Muhammad saw bersabda :
عَنْ جَبِيرٍ ابْنُ مُطْعَمْ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله ص م لاَ يَدْخُلِ اْلنَةَ قَاطِعُ يَعْنِي قَاطَع رَحِمِ (متفق عليه)
Artinya :  Jabir bin Muth’im berkata : Rasulullah saw. bersabda : “ tidak masuk syurga siapa yang memutuskan tali kasih sayangnya dengan orang lain“[10]
Adapun yang dimaksud dengan “ tidak masuk ” dalam kutipan hadits tersebut adalah tidak langsung masuk karena umat manusia akan masuk syurga dengan syafaat Rasulullah saw. Dan orang yang sekali saja mengucapkan Syahadatain selama hidupnya dan matinya tidak kafir. Hadits diatas bersifat tahdiidan atau ancaman berat bagi siapa saja yang memutuskan tali silaturrahminya.
Dari uraian hadits diatas jelas bahwa orang yang memutuskan hubungan persaudaraan berarti dia telah berbuat maksiat karena telah melanggar perintah Allah SWT dan Rasul-Nya tentang kewajiban umat Islam untuk menyambung tali persaudaraan.bahkan sekedar menjauhi dan meninggalkan saudaranya lebih dari tiga malam dengan niat memutuskan hubungan persaudaraan pun tidak dibenarkan oleh agama.
Dalam suatu hadits Rasulullah saw pernah bersabda:
عَنْ اِبْنُ مَسْعُودٍ قَا لَ : قَا لَ الّنبِي ص م : اَنَّ اَبْوَبَ السَّماَ ءِ مُغْلَقَةً دُوْنَ قَاطِعُ الرَّحْمِ (روه طبراني)
Artinya : Dari Ibnu Mas’ud r.a berkata : Nabi Muhammad saw bersabda : sesungguhnya pintu langit itu tertutup untuk orang yang memutuskan hubungan persaudaraan. (H.R. Thabrani)
Dan Rasulullah saw dalam berbagai haditsnya pun telah mengutuk perbuatan dari orang-orang yang memutuskan tali silaturrahmi atau hubungan persaudaraan, yang dimana secara tegas diperintah oleh Allah SWT untuk senantiasa menjaganya, sebab yang demikian dapat difahami karena kecintaan seseorang terhadap saudaranya merupakan bukti dari keimanan seseorang sehingga ketika seseorang telah memutuskan hubungan kasih sayang terhadap sesama sebagai bentuk persaudaraan maka dia telah kehilangan sebagian dari keimanannya,karena keimanan yang sempurna menuntut kecintaan terhadap sesama muslim.[11]
D.    Bentuk dan Manfaat Sillaturrahmi
Silaturahmi secara konkrit dapat diwujudkan dalam bentuk-bentuk antara lain sebagai berikut :
  1. Berbuat baik atau ihsan terutama dengan memberikan bantuan materiil untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, adapun yang harus diprioritaskan untuk dibantu adalah karib kerabat dibanding dengan pihak-pihak lain yakni diantaranya ada anak yatim, orang miskin,  ibnu sabil, dan lain-lain. Karena jika karib kerabat tersebut seorang yang miskin maka bersedekah kepada kerabat tersebut bermakna ganda ; yakni sedekah sekaligus silaturrahmi.[12] Dengan demikian jelas bahwa dari ukhuwah antar karib kerabat adalah lebih utama.
  2. Memelihara dan meningkatkan rasa kasih sayang sesame kerabat maupun sesama muslim maupun orang lain dapat dapat diaplikasikan dengan sikap saling kenal-mengenal, hormat-menghormati, bertukar salam, kunjung-mengunjungi, surat-menyurat, bertukar  hadiah, jenguk-menjenguk, bantu-membantu, dan berkerja sama menyelenggarakan walimahan, dan lain-lain[13]
Dan itu semua bisa dikatakan silaturrahmi dengan catatan hal-hal tersebut diorientasikan untuk meningkatkan persaudaraan.
Kemudian selain dapat meningkatkan dan mempererat hubungan persaudaraan antara sesama karib kerabat pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya, silaturrahmi juga dapat member manfaat lain baik di dunia maupun akhirat. Dan diantara manfaat lain itu adalah :
  1. Mendapat rahmat, nikmat, dan ihsan dari Allah SWT
Sebagaimana penjelasaan hadits yang telah dikumukakan dibagian awal bahwa barang siapa yang menyambung rahim atau tali persaudaraan maka Allah SWT pun juga akan menghunghubungkannya namun begitu pula sebaliknya, karena menurut sebagian ulama, hakikat dari silaturrahmi adalah al-‘athfu wa ar-rahmah yang berarti lemah lembut dan kasih sayang. Dan shilatullah dengan hamba-hamba-Nya.’Athfullah berarti ihsan dan nikmat-Nya.
Dengan demikian maka orang-orang yang melakukan silaturrahmi akan mendapatkan rahmat, nikmat, dan ihsan dari Allah SWT.
  1. Masuk surga dan jauh dari neraka
Secara khusus disebut oleh Rasulullah saw bahwa sesudah amalan pokok, silaturrahmi dapat mengantarkan seseorang ke seseorang ke surga dan menjauhkan dari neraka sebagaimana hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim yang diriwayatkan oleh Abu Ayyub ibn Zaid al-Ansari sebagai berikut :
َنْ اَبِي اَيوُبَ خاَ لِدِ ابْنِ زَيْدٍ الاَنْصَا رِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَا لَ : َانَّ رَجُلًا قَا لَ : يَا َرسُو لَ لله َاخْبِرنِي بَعْملُ يدْخِلْنِي اْلجنَّةَ فَقَالَ النَّبِي ص م : تَعبُدُاللهَ وَلَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْاءً وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكاَةَ وَتَصِلَ الرَّحِمِ (متفق عليه)
Artinya : Dari Ayyub Khalid bin Zaid Al- Anshariy ra. Ia berkata :  ada seseorang bertanya kepada Rasulullah : “ Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku amal yang dapat memasukkanku kedalam surga. “ Nabi saw menjawab : “ sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya, dirikanlah salat, bayarlah zakat, dan sambunglah tali kekerabatan.”[14] (H.R. Bukhari dan Muslim)
  1. Lapang rizki dan panjang umur
Secara lebih konkret Rasulullah saw menjanjikan rizki yang lapang dan umur yang panjang bagi orang-orang yang melakukan sillaturrahmi sebagaimana sabda beliau :
عَنْ اِبْنِ شِهَا بٍ قَا َلَ : اَخْبَرَنِي َاّنسِ بْن ماَ لِكْ اَنَّ رَسُول لله ص م قاَ لَ : مِنْ اَحَبَّ اَنْ يُبْسَط لَهُ فيِ رِزْقِهِ وَىُيْنساَءَ لَهُ فيِ اَثُرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (متفق عليه)
Artinya : dari Ibnu Syihab, dari Annas bin Malik berkata bahwa sesungguhnya  Rasulullah saw bersabda : barang siapa ingin dilapangkan rizkinya dan ditangguhkan atau dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung tali kasih dengan keluarganya.
IV.  KESIMPULAN
Dari uraian-uraian tersebut maka dapat kita ketahui bahwa silaturrahim dengan silaturrahmi memiliki maksud pengertian yang sama namun dalam penggunaan bahasa Indonesia istilah silaturrahmi memiliki pengertian yang lebih luas, karena penggunaan istilah ini tidak hanya terbatas pada hubungan kasih sayang antara sesama karib kerabat, akan tetapi juga mencakup pengertian masyarakat yang lebih luas.
Islam dalam berbagai ayat al-qur’an maupun hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam juga telah banyak menganjurkan akan  pentingnya kasih sayang terhadap sesama, serta melarang sifat yang berbau permusuhan dan pertikaian. sehingga Allah SWT pun sangat menjunjung tinggi orang yang memiliki sifat kasih saynang terhadap sesama, karena jika seseorang telah memiliki sifat kasih sayang terhadap sesamanya, maka Allah SWT akan mengasihinya.
Dan  orang-orang yang memutuskan hubungan persaudaraan berarti dia telah berbuat maksiat karena telah melanggar perintah Allah SWT dan Rasul-Nya tentang kewajiban umat Islam untuk menyambung tali persaudaraan dan Rasulullah saw dalam berbagai haditsnya pun juga telah mengutuk perbuatan dari orang-orang yang memutuskan tali silaturrahmi atau hubungan persaudaraan, yang dimana secara tegas diperintah oleh Allah SWT untuk senantiasa menjaganya.
Adapun dengan senantiasa menyambung silaturrahmi maka kita kan memperoleh banyak manfaat diantaranya yaitu : akan mendapat rahmat, nikmatdan ihsan dari Allah SWT, masuk surga dan jauh dari neraka serta akan dilapangkan rizki dan panjang umur.
V.   PENUTUP
Dengan mengucapkan rasa syukur kepada Allah yang telah melimpahkan rahmat, taufik, hidayat, serta inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini, semoga uraian-uraian yang kami sampaikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi kami sendiri dan para pembaca. Amiin.
DAFTAR PUSTAKA
Abi Zakariya, Imam, Riyadhu Asshalihin, Terj. Ahmad Sunarto, (Jakarta : Pustaka Amani,1999) juz I
Bahresi, Hussein, Hadits Shohih Bukhari-Muslim ( Surabaya : Karya Utama, Tt)
Ibnu Hajar, Hafidz, Bulughul Maram, Terj. Kahar Masyhur, ( Jakarta : Rineka Cipta, 1992) Jilid II
Ilyas, Yunahar, Kuliah Akhlak, ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset, 2007 ), Cet. IX,
Juwariyah, Hadits Tarbawi, ( Yogyakarta : Teras, 2010 ), Cet. I


[1] Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak, ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset, 2007 ), Cet. IX, hlm. 183
[2] Hussein Bahresi, Hadits Shohih Bukhari-Muslim ( Surabaya : Karya Utama, Tt), hlm 140
[3] Juwariyah, Hadits Tarbawi, ( Yogyakarta : Teras, 2010 ), Cet. I hlm. 48
[4]  Ibid,  hlm. 50  
[5] Imam Abi Zakariya, Riyadhu Asshalihin, Terj. Ahmad Sunarto, ( Jakarta : Pustaka Amani,1999 ) juz I hlm 329
[6] Yunahar Ilyas, Op Cit, hlm 190
                [7]  Juwariyah OP Cit, hlm 51
[8]  OP Cit hlm 332
[9] Ibid,  hlm 337-338
[10] Hafizh Ibnu Hajar, Bulughul Maram, Terj. Kahar Masyhur, ( Jakarta : Rineka Cipta, 1992) Jilid II, hlm. 372
[11] Juwariyah OP Cit, hlm, 55
[12] Yunahar Ilyas, Op Cit, hlm.185
[13]  Ibid,  hlm. 187
[14] Juwariyah,Op Cit,  hlm 337-338
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Situs-situs Terkait

Music

 
Support : Muhammad Arwani Proudly powered by Blogger
Copyright ; 2012. Agama tanpa ilmu pengetahuan akan buta - All Rights Reserved
Copright SMK Manba'ul Huda Published by Blogger