Headlines News :
Home » , » POKOK-POKOK AJARAN ISLAM DAN PERASAAN MALU

POKOK-POKOK AJARAN ISLAM DAN PERASAAN MALU

Written By Arwani Muhammad on Saturday, December 22, 2012 | Saturday, December 22, 2012

POKOK-POKOK AJARAN ISLAM DAN PERASAAN MALU

A.    PENDAHULUAN
Manusia merupakan makhluq ciptaan Allah SWT. Yang paling mulia diantara makhluq yang lain, karena dalam penciptaannya manusia dikaruniai akal yang sempurna, sehingga manusia ditugaskan sebagai khalifah di bumi. Allah menciptakan manusia dilengkapi dengan naluri menyembah kepada-Nya, sesuai dengan tujuan penciptaannya yaitu agar menyembah kepada-Nya. Dalam hal menyembah kepada Allah, diatur dalam bentuk syari’at Islam, sehingga dalam Al Qur’an  Surat Ali Imran ayat ke 85 ditegaskan:
  
85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi[1].


Dengan diberikan akal yang sempurna, pasti tidak memilih rugi. Oleh karenanya ayat tersebut diatas menambah tingkat keyakinan umat Islam dalam memeluk dan melaksanakan ajaran Islam secara utuh dan sempurna. Keyakinan sebagai modal pondasi pelaksanaan ajaran Islam. Tanpa adanya keyakinan yang mantap meskipun sudah melaksanakan ajaran Islam akan berakibat kualitas pelaksanaannya bias jadi menurun, sejalan dengan tinggi dan rendahnya iman seseorang yang telah disenyalir oleh Rasulullah SAW bahwa iman itu bias berkurang dan bertambah. Indikasi iman seserang bertambah, dapat dilihat dari segi peningkatan ibadahnya. “meningkat” dalam arti lebih tekun, lebih sering, lebih baik dan atau lebih banyak, begitu pula sebaliknya jika ibadah seseorang menurun dapat dikatakan menurun pula imannya.
Keyakinan akan menjadi tumbuh bahkan bisa berkembang jika mengetahui secara jelas tentang hal yang seharusnya diyakini. Dalam hal ini maka pemakalah akan menyampaikan  secara singkat tentang pokok-pokok ajaran Islam dan perasaan malu.


B.     HADITS DAN TERJEMAHNYA
1.      Hadits yang berkait dengan pokok-pokok ajaran Islam:
Terjemah:
Dari Umar radhiyallahu `anhu juga dia berkata: Ketika kami duduk-duduk disisi Rasullullah shallahu`alaihi wa sallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada lututnya Rasullullah shallahu `alaihi wa sallam seraya berkata, "Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam?", Maka bersabdalah Rasullulah shallahu`alaihi wa sallam: "Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu", kemudian dia berkata, "anda benar". Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: "Beritahukan aku tentang Iman". Lalu beliau bersabda, "Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk", kemudian dia berkata "anda benar". Kemudian dia berkata lagi: "Beritahukan aku tentang ihsan". Lalu beliau bersabda, "Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau". Kemudian dia berkata, "Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)". Beliau bersabda, "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertana". Dia berkata, "Beritahukan aku tentang tanda-tandanya", beliau bersabda, "Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, (kemudian) orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam) bertanya, " Tahukah engkau siapa yang bertanya?". Aku berkata, " Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui". Beliau bersabda, "Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian". (Riwayat Muslim)[2]

2.      Hadits yang berkait dengan perasaan malu:
عَنْ أَبى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهصَلى اللهُ عَلَيْهوَسَلمَ اَلْحَيَاءُ منَ الايْمَان وَالايْمَانُ فى الْجَنَة وَالْبَدَاءُ منَ الْجَفَاءوَالْجَفَاءُ [3] فى النَار   اخرحه الترميدي
Terjemah:
Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Rasa malu itu bagian dari iman, dan iman itu di surge, sedangkan berbuat cabul itu bagian dari sia-sia, dan kesia-siaan itu di neraka”  HR. al Turmudzi)[4]

C.     PEMBAHASAN
1.      Tentang pokok-pokok ajaran Islam
Hadits di atas menggambarkan bagaimana sebuah ajaran islam itu diajarkan dengan metode-metode yang mudah tetapi tidak bisa dibuat mudah. Ada beberapa aturan-aturan yang harus dipahami dan diikuti dalam prosesnya. Secara umum, hadits di atas memberikan kita pembelajaran mengenai rukun islam dan rukun iman.

Hadits ini merupakan hadits yang sangat dalam maknanya, karena didalamnya terdapat pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Hadits ini mengandung makna yang sangat agung karena bersal dari dua makhluk Allah yang terpercaya, yaitu: Amiinussamaa' (kepercayaan makhluk di langit/ Jibril) dan Amiinul Ardh (kepercayaan makhluk di bumi/ Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam).

Hadits di atas secara umum memberikan ajaran-ajaran islam yang diawali dengan:
1)      Iman kepada Allah
2)      Iman kepada Malaikat-Malaikat-Nya
3)      Iman kepada Kitab-Kitab-Nya
4)      Iman kepada Rasul-Rasul-Nya
5)      Iman kepada Hari Akhir
6)      Iman kepada Takdir yang baik maupun yang buruk
Enam hal tersebut sering disebut dengan rukun iman, dimana iman merupakan aqidah yang harus diyakini umat Islam, sehingga bisa dikatakan kualitas islam bergantung pada kualiats iman.
Kandungan Hadits di atas dapat juga dijumpai di dalam Alquran, tentang iman. Terdapat pada Surah Al Baqarah Ayat ke 285:
z`tB#uä ãAqߧ9$# !$yJÎ/ tAÌRé& Ïmøs9Î) `ÏB ¾ÏmÎn/§ tbqãZÏB÷sßJø9$#ur 4 <@ä. z`tB#uä «!$$Î/ ¾ÏmÏFs3Í´¯»n=tBur ¾ÏmÎ7çFä.ur ¾Ï&Î#ßâur Ÿw ä-ÌhxÿçR šú÷üt/ 7ymr& `ÏiB ¾Ï&Î#ß 4 (#qä9$s%ur $uZ÷èÏJy $oY÷èsÛr&ur ( y7tR#tøÿäî $oY­/u šøs9Î)ur 玍ÅÁyJø9$# ÇËÑÎÈ   
285. Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."


Dan apabila mengimani hal tersebut maka sudah merupakan titik awal pembelajaran Islam dan melaksanakan perintah dari Allah yaitu
1)      Bersyahadat
2)      Mendirikan Shalat
3)      Menunaikan Zakat
4)      Puasa di Bulan Ramadhan
5)      Pergi Haji bagi yang mampu
Bersyahadat berarti bersaksi. Syahadat ada dua macam.  Pertama syahadat tauhid artinya bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Kedua syahadat rasul yakni bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.
Shalat merupakan amal kewajiban bagi muslim yang utama, sebab diterangkan dalam Al Qur’an shalat itu bias mencegah yang fakhsya’ dan yang munkar, lagi pula  amal yang pertama dihisab pada hari kiyamat adalah shalat.
Islam merupakan rahmatan li al ‘alamin, salah satu indikasinya diajarkan perbuatan ibadah social yakni zakat. Zakat diperintahkan kepada umat Islam yang mampu untuk diberikan kepada yang berhak menrimanya. Ini merupakan keseimbangan social, yang kuat membantu yang lemah.
Manusia diciptakan diberikan karunia akal sempurna tetapi diberikan pula nafsu. Akal sehat cenderung mengajak berbuat baik sedangkan nafsu mempunyai kecenderungan untuk berbuat yang salah, oleh karenanya nafsu perlu dikendalikan. Sebagaimana diwajibkan kepada ummat terdahulu maka umat Islam sekarang ini pun diperintahkan untuk wajib menjalankan puasa sebulan  dalam setahun yaitu pada bulan Ramadhan.
Ibadah haji merupakan pengamalan ajaran islam yang diwajibkan bagi yang mampu dan dilaksanakan pada bulan dzul hijjah di tanah suci Makkah al mukarromah yaitu Negara atau kota dimana telah dibangun ka’abah yang menjadi kiblat umat Islam dalam beribadah shalat.

2.      Tentang perasaan malu
Para Ulama berpendapat : “Hakikat malu adalah budi pekerti yang mengajak agar meninggalkan kejelekan dan mencegah dari mengurangi hak orang lain.”
Dalam riwayat Abu al Qasim Al Junaid ra, ia berkata : “Malu adalah memandang kebaikan dan melihat kekurangan diri sendiri. Dari kedua pandangan itu, lahirlah persaan yang dinamakan malu.”[5]
Secara biologis orang yang memiliki perasaan malu itu ditandai dengan sedikit dan banyaknya keringat di wajahnya dan dikatakan tidak baik jika wajah seseorang itu sedikit sekali keringatnya.

3.      Korelasi antara perasaan malu dengan pokok-pokok ajaran Islam
Bagi umat Islam menjalankan pokok-pokok ajaran Islam dipandang sebagai amal shalih, perbuatan ibadah yang mengandung nilai terpuji baik dalam rangka hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama makhluk. Dengan adanya pandangan bahwa melaksanakan amal shalih dan memandang diri sendiri belum atau kurang bahkan tidak melaksanakan amal shalih tersebut, timbullah perasaan malu baik malu kepada Allah, kepada sesama atau malu terhadap diri sendiri. Dengan demikian kiat ataupun upaya untuk menjalankan pokok-pokok ajaran Islam akan tumbuh kesadaran untuk menjalankannya dengan lebih baik baik dari segi kuantitas maupun kualitas pelaksanaan ibadahnya.



D.    PENUTUP
1.      Kesimpulan
Sebagai penduduk agama Islam, seorang muslim seharusnya menjalankan pokok-pokok ajaran Islam yaitu bersyahadad, mendirikan shalat, memeberikan, menjalankan puasa rhamadhan, dan menjalankan ibadah haji bagi yang mampu menjalankannya.
Berkaitan dengan perasaan malu maka seseorang sejati akan merasa malu dengan dirinya sendiri jika tidak menjalankan pokok ajaran Islam tersebut.
2.      Kata Penutup
Alhamdulillah kami panjatkan puji syukur kepada Allah SWT, berkat Inayah dan Hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Hadist ini.
Kami sangat menyadari kekurangan kami dalam penyusunan makalah ini, untuk kritik dan saran sangat kami butuhkan dari pihak manapun




Daftar Pustaka

Departemen Agama RI, Al-Qur’an AL Karim dan Terjemahnya, PT Karya Toha Putra: Semarang, 2002
Nawawi Imam, Terjemah Riyadhus Shalihin, Pustaka Amani; Jakarta, 1999, hl 624.
Amin Muhammad Al Kutuby, Bulugh al Maram, Al Haramain; 1378 H
Idris Muhammad, Abdul al Rauf, Qamus al Marbawi, Dar Ihya’ al Kutub al ‘arabiyah Indonesia.
Hasan, Ali Umar, Pelajaran Hadits, PT Karya Toha Putra: Semarang, 1992


[1] Al-Qur’an dan Terjemahnya Departemen Agama RI, CV Thoha Putra:semarang, 2002;hal 48
[2] Imam Nawawi, Terjemah Riyadhus Shalihin, Pustaka Amani; Jakarta, 1999, hl 624.
[3] Muhammad Idris, Abdul al Rauf, Qamus al Marbawi, Dar Ihya’ al Kutub al ‘arabiyah Indonesia.hal 103
[4] Muhammad Amin Al Kutuby, Bulugh al Maram, Al Haramain; 1378 H

[5] Op cit, Terjemah Riyadhus Shalihin, hal 124
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Situs-situs Terkait

Music

 
Support : Muhammad Arwani Proudly powered by Blogger
Copyright ; 2012. Agama tanpa ilmu pengetahuan akan buta - All Rights Reserved
Copright SMK Manba'ul Huda Published by Blogger