Headlines News :
Home » , » KEPEDULIAN SOSIAL

KEPEDULIAN SOSIAL

Written By Arwani Muhammad on Saturday, December 22, 2012 | Saturday, December 22, 2012

KEPEDULIAN SOSIAL
A.      PENDAHULUAN
Manusia memang tidak akan pernah lepas dari apa yang disebut sosial. Karena memang manusia itu merupakan makhluk sosial, makhluk yang memerlukan orang lain, berkomunikasi dengan sesama, bertukar pikiran, tolong-menolong dan lain sebagainya. Dalam pandangan Islam seseorang tidak akan dikatakan sempurna imannya sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.

Kendatipun pandangan Islam sudah demikian benar, namun kenyataannya masih banyak orang yang kurang peka terhadap permasalahan sosial sekarang ini sehingga tatanan sosial menjadi kurang seimbang yang akhirnya terjadilah banyak kekacauan seperti pencurian, perampokan, pembunuhan, jual beli manusia dan lain sebagainya yang mungkin saja hal ini terjadi yang disebabkan salah satunya karena faktor kurang peduli terhadap permasalahan sosial ataupun pihak pemerintah belum mampu mengentaskan permasalahan pengangguran, juga bisa jadi karena orang yang miskin pun kurang memiliki mental yang positif apalagi saat ini dunia sedang terhegemoni oleh pemikiran barat yang sekular dan liberal. Sangat ironis memang jika sifat apatis terhadap sosial itu dimiliki oleh orang Islam.
Disisi lain seorang muslim mempunyai karakter dan kewajiban yang sama besarnya dengan hablum minallah yaituhablum minannas atau hubungan dirinya dengan sesama manusia. Hubungan tersebut merupakan hubungan yang lebih kompleks, karena hubungan ini terjadi antara pihak yang satu dan lainnya yang bersifat relatif serta penuh dengan dinamika. Oleh karena itu perlu diingat bahwa manusia adalah makhluk yang dibekali rasa, karsa, dan periksa, sehingga segala tindakanya selalu terpengaruh oleh ketiga hal tersebut.[1]

Dalam hubunganya dengan sesama, seorang muslim mempunyai kewajiban untuk saling peduli. Hal tersebut dapat dimanifestasikan dalam berbagai hal, seperti saling menolong, memberi, mengasihi dan lain sebagainya. Namun dalam kenyataanya masih banyak muslim yang apatis terhadap tanggung jawab sosial tersebut. Padahal sejatinya sudah sangat jelas Islam juga mewajibkanya seperti perintah-perintah yang tercantum dalam al Qur’an dan Hadits Nabi.
Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai hadits-hadits tentang kepedulian sosial sebagai cara untuk mengetahui urgensi kepedulian sosial tersebut.. Diharapkan dengan hal ini kita sebagai seorang muslim akan lebih peka dengan realita sosial yang ada. Karena itu merupakan kewajiban kita sebagai hamba-Nya untuk saling mengasihi terhadap sesama.
B.       TEKS HADITS DAN TERJEMAHAN
Hadits yang berkaitan dengan Kepedulian Sosial
1.        Hadits Abu Hurairah tentang membuang duri di jalan
عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :كُلُّ سُلامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ قَالَ تَعْدِلُ بَيْنَ الاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ قَالَ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ وَكُلُّ خُطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلاةِ صَدَقَةٌ وَتُمِيطُ الاذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ  (أخرجه مسلم في كتاب الزكاة)
Artinya : “Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda : Setiap ruas tulang pada badan manusia wajib atasnya untuk  sedekah  pada setiap hari matahari terbit, kamu melakukan keadilan diantara dua orang yang berselisih faham adalah sedekah, kamu membantu orang yang menaiki kendaraan atau kamu mengangkat barang-barang untuknya kedalam kenderaan adalah sedekah, perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah kamu berjalan untuk menunaikan solat adalah sedekah dan kamu membuang perkara-perkara yang menyakiti di jalan adalah sedekah.”[2]


2. Hadits Abu Hurairah tentang menolong orang lain
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالاخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالاخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ  (أخرجه مسلم في كتاب الذكروالدعاء والتوبة والاستغفار)
Artinya : “Dari Abi Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda ; barang siapa yang melepaskan kesusahan seorang mu’min dari kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskan kesusahanya di hari kiamat. Dan barang siapa yang memudahkan orang dari kesusahan, maka Allah akan memudahkanya di dunia dan akhirat, dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Sungguh Allah akan menolong hamba-Nya selama dia menolong saudaranya.”

C.      ANALISIS HADITS

Hadits di atas mengajarkan kepada kita untuk selalu memperhatikan sesama muslim dan memberikan pertolongan jika seseorang mendapatkan kesulitan, kami dari pemakalah menganalisis hadits – hadits diatas sebagai berikut :
Dalam hadits pertama di atas, dijelaskan bahwa setiap ruas tulang pada manusia harus disedekahi pada setiap matahari terbit, sebagai contoh sedekah pagi hari yaitu melaksanakan sholat dhuha. Selain itu setiap langkah kita dalam melaksanakan kebaikan juga termasuk sedekah.
            Hadits di atas menunjukkan bahwa dalam Islam, sekecil apapun perbuatan baik akan mendapat balasan dan memiliki kedudukan sebagai salah satu pendukung akan kesempurnaan keimanan seseorang.
            Duri dalam konotasi secara sekilas menunjukkan pada sebuah benda yang hina. Akan tetapi, jika dipahami lebih luas, yang dimaksud dengan duri di sini adalah segala sesuatu yang dapat membahayakan pejalan kaki, baik besar maupun kecil. Hal ini semacam ini mendapat perhatian serius dari Nabi saw. sehingga dikategorikan sebagai salah satu cabang daripada iman, karena sikap semacam ini mengandung nilai kepedulian sosial, sedang dalam Islam ibadah itu tidak hanya terbatas kepada ibadah ritual saja, bahkan setiap ibadah ritual, pasti di dalamnya mengandung nilai-nilai sosial.
 Di samping hal tersebut di atas, menghilangkan duri dari jalan mengandung pengertian bahwa setiap muslim hendangkan jangan mencari kemudlaratan, membuat atau membiarkan kemudlaratan.
Selain itu dalam hadits pertama begitu jelas dapat kita pahami bahwa segala yang ada pada diri kita adalah sedekah. Kata sedekah sendiri berasal dari bahasa Arab, al shodaqoh. Kata ini diambil dari kata al shidq (benar) karena ini menunjukan kebenaran untuk Allah. Sedangkan menurut Al Jurjani sedekah adalah pemberian yang diberikan untuk mengharap pahala Allah.[3]
Namun maksudnya sedekah itu tidak hanya terbatas pada materi (harta) saja, namun bisa dilakukan dengan apapun yang kita punya. Dicontohkan pula oleh Nabi bahwa melakukan keadilan diantara dua orang yang berselisih faham adalah sedekah, perkataan yang baik adalah sedekah, senyum an dalah sedekah dan lain sebagainya. Maka karena begitu pentingnya sedekah, hingga seseorang belum bisa dikatakan kepada kebajikan yang sempurna sebelum menafkahkan sebagian hartanya yang dicintai. Berikut adalah beberapa manfaat dari sedekah :
1.      Sedekah adalah sebaik-baiknya harta investasi
2.      Sedekah akan menjadi tameng dari api neraka
3.      Sedekah akan menjadi tempat bernaung kelak di hari kiamat
4.      Sedekah akan menjadi penghalang siksaan
5.      Sedekah akan menjadi obat bagi yang sakit
6.      Sedekah akan menghalau bencana
7.      Sedekah akan memudahkan segala urusan
8.      Sedekah akan mendatangkan rizki.[4]
Berdasarkan uraian di atas, dapat di pastikan bahwa orang yang bersedekah pasti dicintai Allah, karena ia mengalahkan egonya yang memiliki watak cinta harta. Karena orang yang bersedekah lebih mementingkan cinta Tuhan daripada tabi’at dirinya, sehingga Allah memberinya rasa aman dari setiap hal yang menakutkan di akhirat.[5]
Dapat kita pahami bersama bahwa sedekah merupakan suatu bentuk kepedulian sosial. Kerena dalam sedekah mendidik kita untuk saling memberi, menolong dan mengasihi terhadap sesama. Dalam Islam tentu sangat menganjurkan untu peduli terhadap sesama sebagai salah satu wujud habluminallah yang salah satu bentuknya adalah sedekah. Jadi sedekah mempunyai arti penting dalan kepedulian sosial.
Sedekah sebagai salah satu bentuk kepedulian sosial sangan dianjurkan dalam Islam. Namun yang perlu dipahami bahwa kepedulian sosial tidak hanya dengan harta, bisa dengan apapun yang kita punya. Bahkan dalam hadits di atas sekedar berkata baik adalah sedekah yang artinya merupakan suatu bentuk kepedulian sosial. Sehingga jika dilandasi dengan niat yang ikhlas, maka Allah akan membalasnya dengan kebaikan baik di dunia ataupun di akhirat.
Dalam Hadits kedua mengajarkan kita untuk peduli dengan sesama muslim antara lain sebagai berikut :
1.     Melepaskan berbagai kesusahan orang mukmin
            Melepaskan kesusahan orang lain sangat luas maknanya, bergantung pada kesusahaan yang diderita oleh saudarnya seiman tersebut. Jika saudaranya termasuk orang miskin, sedangkan ia termasuk orang berkecukupan atau kaya, ia harus berusaha menolongnya dengan cara memberikan pekerjaan atau memberikan bantuan sesuai kemampuannya; jika saudaranya sakit, ia berusaha menolongnya, antara lain dengan membantu memanggilkan dokter atau memberikan bantuan uang alakadarnya guna meringankankan biaya pengobatannya; jika saudaranya dililit utang, ia berusaha untuk mencarikan jalan keluar, baik dengan memberikan bantuan agar utangnya cepat dilunasi, maupun sekedar memberikan arahan-arahan yang akan membantu saudaranya dalam mengatasi utangnya tersebut dan lain-lain.
          Orang muslim yang membantu meringankan atau melonggarkan kesusahan saudaranya seiman berarti telah menolong hamba Allah SWT yang sangat disukai oleh-Nya dan Allah SWT pun akan memberikan pertolongannya serta menyelamatkannya dari berbagai kesusahan, baik di dunia maupun di akhirat.
           Berbahagialah bagi mereka yang bersedia untuk melepaskan penderitaan sesama orang mukmin karena pada hari kiamat nanti, Allah akan menyelamatkannya.
2.     Melonggarkan kesusahan orang lain
        Adakalanya suatu masalah sangat sulit untuk diatasi atau hanya dapat diselesaikan oleh yang bersangkutan. Terhadap masalah seperti itu, seorang mukmin ikut melonggarkannya atau memberikan pandangan dan jalan keluar, meskipun ia sendiri tidak terlibat secara langsung. Bahkan, dengan hanya mendengarkan keluhannya saja sudah cukup untuk mengurangi beban yang dihadapi olehnya.
            Dengan demikian, melonggarkan kesusahann orang lain haruslah sesuai dengan kemampuan saja, dan bergantung kepada kesusahan apa yang sedang dialami oleh saudaranya seiman tersebut. Jika mampu meringankan kesusahannya dengan memberikan materi, berilah materi kepadanya. Dengan demikian, kesusahannya dapat berkurang, bahkan dapat teratasi. Namun jika tidak memiliki materi, berilah saran atau jalan keluar agar masalah yang dihadapinya cepat selesai. Bahkan jika tidak mempunyai idea tau saran, doakanlah agar kesusahannya dapat segera diatasi dengan pertolongan Allah SWT. Termasuk doa paling baik jika mendoakan orang lain dan orang yang didoakan tidak mengetahuinya.
3.  Menutupi aib seorang mukmin serta menjaga orang lain dari berbuat dosa
            Orang mukmin pun harus berusaha menutupi aib saudaranya. Apalagi jika ia tahu bahwa orang yang bersangkutan tidak akan senang kalau aib atau rahasianya diketahui oleh orang lain. Namun demikian, jika aib tersebut berhubungan dengfan kejahatan yang dilakukannya, ia tidak boleh menutupinya. Jika hal itu dilakukan, berarti ia telah menolong orang lain dalam hal kejahatan sehingga orang tersebut terhindar dari hukuman. Perbuatan seperti itu sangat dicela dan tidak dibenarkan dalam Islam.Sabda Nabi Muhammad SAW “Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim” maksudnya menutupi aib orang yang baik, bukan orang-orang yang telah dikenal suka berbuat kerusakan. Hal ini berlaku dalam kaitannya dengan dosa yang telah terjadi dan telah berlalu.
      Namun apabila kita melihat suatu kemaksiatan dan sesorang sedang mengerjakannya maka wajib bersegera untuk mencegahnya dan menahannya. Jika dia tidak mampu, boleh baginya melaporkannya kepada penguasa jika tidak dikhawatirkan muncul mafsadah (yang lebih besar).
            Terhadap orang yang telah terang-terangan melakukan maksiat tidaklah perlu ditutup-tutupi karena menutup-nutupinya menyebabkan ia melakukan kerusakan dan bebas menganggu serta melanggar hal-hal yang ham dan akhirnya dapat menarik orang lain untuk melakukan sebagaimana yang ia lakukan. Bahkan hendaknya ia melaporkannya kepada penguasa jika tidak dikhawatirkan timbulnya mafsadah.
4.  Allah SWT senantiasa akan menolong hamba-Nya, selagi hamba itu menolong saudaranya.
            Jika telaah secara seksama, pertolongan yang diberikan seorang mukmin kepada saudaranya, pada hakikatnya adalah menolong dirinya sendiri. Hal ini karena Allah pun akan menolongnya, baik di dunia maupun di akhiratselama hamba-Nya mau menolong saudaranya. Dengan kata lain, ia telah menyelamatkan dirinya sendiri dari berbagai kesusahan dunia dan akhirat.
         Maka orang yang suka menolong orang lain, misalnya dengan memberikan bantuan materi, hendaknya tidak merasa khawatir bahwa ia akan jatuh miskin atau ditimpa kesusahan. Sebaliknya, dia harus berpikir bahwa segala sesuatu yang ia miliki adalah miliki Allah SWT. Jika Dia bermaksud mengambilnya maka harta itu habis. Begitu juga jika Allah bermaksud menambahnya, maka seketika akan bertambah banyak.
D.      PENUTUP
1.      Simpulan
Sudah jelas hadits di atas mengajarkan kepada kita bahwa seorang muslim itu harus saling tolong-menolong dalam kebenaran dan kesabaran, selain itu hadits ini juga mengajarkan kepada kita agar peka terhadap problematika sosial yang muncul di hadapan kita sehingga jika kita meringankan beban orang lain maka pada hakikatnya kita telah meringankan beban kita sendiri .
Dijelaskan bahwa Setiap sendi tubuh badan manusia adalah sedekah. Dicontohkan pula ketika kita melakukan keadilan diantara dua orang yang berselisih faham adalah sedekah, kita membantu orang yang menaiki kendaraan atau kamu mengangkat barang-barang untuknya kedalam kendaraan adalah sedekah, kita berkata yang baik adalah sedekah, dan lain sebagainya. Hal itu membuktikan bahwa sedekah sebagai wujud dari kepedulian sosial tidak harus dilakukan dengan harta atau materi, namun bisa dilakukan dengan apa saja. Prinsip itulah yang menandakan bahwa Islam  tidak membeda-bedakan antara kaya dan miskin kaitanya untuk mendapat pahala.
Islam juga sangat mengapresiasi terhadap pemeluknya yang mempunyai kepedulian terhadap sesama. Bukti apresiasi itu adalah kebaikan Allah yang akan diberikan kepadanya baik di dunia ataupun di akhirat.  Itulah janji Islam terhadap orang yang mau menolong sesama. Bahkan karena begitu pentingnya kepedulian sosial, Konsep tersebut menurut Islam adalah sebagai bentuk ketaqwaan dengan saling mengasihi terhadap sesama dengan berdasarkan aqidah Islam.
2.      Kata Penutup
Demikian makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin

DAFTAR PUSTAKA

Al Heleli, Maghdi, Fait First, (Semarang : Pustaka Nuun, 2009).
Asmoro, Toto, Menuju Muslim Kaffah, (Jakarta : Gema Insani Press, 2000).
Husna, Khotimatul, 40 Hadits Pedoman Membangun Toleransi, (Yogyakarta : Pustaka Pesantren, 2006).
Ibnu Hajar AL Asqolani, Al Hafizd, Terjemah Bulughul Maram, Ter. Hamim Thohari Ibnu M. Dailimi, (Beirut : Dar al Kotob al Ilmiyah, 2002).
Imam an-Nawawi. Riyadlush ash-ShalihinSyarah Shahih Muslim. Beirut:Dar al-Fikr
Muslim, Imam, Shahih Muslim, (Bandung : Multazam, 1974).
Mustofa Al Maraghi, Ahmad, Tafsir Maraghi, (Semarang : PT. Karya Toha Putra, 1993).
Rahman, M. Fauzi, Wanita yang Dirindukan Surga, ( Bandung : PT. Mizan Pustaka, 2010).
http://kulinerakal.blogspot.com/2011/07/hadits-hadits-kepedulian-sosial.


[1] Toto Asmoro, Menuju Muslim Kaffah, (Jakarta : Gema Insani Press, 2000), hlm. 44
[2] Imam Muslim, Shahih Muslim, (Bandung : Multazam, 1974), hlm. 404
[3] M. Fauzi Rahman, Wanita yang Dirindukan Surga, ( Bandung : PT. Mizan Pustaka, 2010), Cet.2, hlm. 121
[4] Maghdi Al Heleli, Fait First, (Semarang : Pustaka Nuun, 2009), Cet.1, hlm. 246
[5] M. Fauzi Rahman, Op. Cit, hlm. 123
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Situs-situs Terkait

Music

 
Support : Muhammad Arwani Proudly powered by Blogger
Copyright ; 2012. Agama tanpa ilmu pengetahuan akan buta - All Rights Reserved
Copright SMK Manba'ul Huda Published by Blogger