Headlines News :
Home » » Keajaiban Hamba Allah

Keajaiban Hamba Allah

Written By Arwani Muhammad on Wednesday, April 11, 2012 | Wednesday, April 11, 2012

Seorang sahabat yang mengaku mengalami berbagai keajaiban bercerita banyak pada saya.
Bagaimana keluarganya menganggap bahwa do’a yg dia panjatkan pasti diterima Allah.
Bagaimana isterinya, penganut salah satu tarekat, jika berdo’a sudah bisa merasakan apakah do’a ini terkabul atau tidak.
Rekan lain juga bercerita bagaimana dia mengalami keajaiban.
Ketika dia berdo’a agar termasuk mereka yang berhati emas, tiba-tiba dia melihat langit berwarna keemasan dan tetesen emas itu bagaikan jatuh ke bumi.
Entahlah, apakah pengalaman rekan-rekan saya tersebut benar-benar terjadi atau tidak. Saya hanya khawatir dua hal:
  1. Kita berubah menjadi riya’ ketika kita menceritakan hal-hal itu.
    Saya khawatir kita justru tidak mendapati keajaiban lagi ketika hati kita telah tergelincir pada riya’.
  2. Kita beribadah karena mengejar keajaiban; bukan semata-mata karena Allah.
    Kita baca wirid sekian ribu kali, dengan harapan bisa menghasilkan keajaiban, apakah tubuh yg kebal, terungkapnya hijab (kasyaf) dan lainnya. Kita jalani sholat sunnah ratusan rakaat juga demi mengejar “keanehan-keanehan”. Kita jalani ritus-ritus itu hanya karena ingin mencapai ma’rifat (yang sayangnya dikelirukan sebagai memiliki keajaiban).
Yang lebih celaka lagi, ketika kita mendapat keajaiban tiba-tiba kita mengklaim bahwa Tuhan sangat dekat dengan kita sehingga status kita naik menjadi wali.
Sayang, setelah “merasa” menjadi wali, kita lupakan aspek syari’ah.
Konon, bagi mereka yang mencapai aspoek ma’rifat tidak perlu lagi menjalankan aspek syari’at.
Entahlah, saya yang merasa belum naik-naik maqamnya dari status awam hanya bisa merujuk kisah Nabi Zakariya dan Siti Maryam.
Nabi Zakariya diberi anugerah putera, padahal dia sudah tua dan isterinya mandul.
Setelah mendapat keajaiban ini, Allah memerintahkan pada-Nya,

قَالَ رَبِّ اجْعَل لِّيَ آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَلاَّ تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ إِلاَّ رَمْزاً وَاذْكُر رَّبَّكَ كَثِيراً وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالإِبْكَارِ

[3:41] Berkata Zakariya: “Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung)”. Allah berfirman: “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari”.
Maryam pun mendapat keajaiban berupa putera (padahal dia tidak pernah “disentuh” lelaki).
Namun setelah Allah memberitahu tingginya kedudukan Maryam, Allah menyuruh Maryam,

يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ

[3:43] Hai Maryam, ta’atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.
Ternyata, hamba Allah seperti Nabi Zakariya dan Siti Maryam pun TIDAK meninggalkan aspek syari’at meskipun telah memiliki keajaiban.
Berkenaan dengan keajaiban, Abu Sa’id, sufi besar abad 10 dan 11 Hijriah, pernah bertemu orang yang menceritakan sejumlah keajaiban “wali”.
Orang itu berkata, “dia bisa terbang… ”
Abu Sa’id menjawab, “ah… tak aneh… burung saja bisa terbang”
Yang aneh justru adalah mereka yang mengaku-aku wali dan sufi sambil mendemonstrasikan “keajaibannya”.
Wali dan Sufi sejati tak butuh pengakuan orang lain akan ke-waliannya.
Wali dan sufi sejati tak akan pernah meninggalkan aspek syari’at, meski telah mencapai maqam ma’rifat.

Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Situs-situs Terkait

Music

 
Support : Muhammad Arwani Proudly powered by Blogger
Copyright ; 2012. Agama tanpa ilmu pengetahuan akan buta - All Rights Reserved
Copright SMK Manba'ul Huda Published by Blogger