Headlines News :
Home » » Psikologi Pada Masa Yunani Kuno

Psikologi Pada Masa Yunani Kuno

Written By Arwani Muhammad on Wednesday, April 18, 2012 | Wednesday, April 18, 2012

BAB I
PENDAHULUAN

Psikologi berasal dari kata Psychẻ yang berarti jiwa dan  logia yang berarti ilmu jadi, psikologi merupakan ilmu yang mempelajari perilaku manusia dengan lingkungannya.
Psikologi tidak mempelajari jiwa mental secara langsung karena sifatnya absrak, tetapi psiklogi membatasi pada menifestasi dan ekspresi dari jiwa dan mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya.  Psikologi terdiri dari beberapa definisi yakni:
1.                  Wilhelm Wundt : Psikologi adalah ilmu yang mempelajari kesadaran manusia.
2.                  Woodworth dan Marquis : Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia, yang terlihat maupun yang tidak terlihat meliputi aktivitas fisik, emosi, dan berpikir.
3.                  Fieldman : Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perilaku dan proses mental.
4.                  Clifford T.Morgan : Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan hewan.
5.                  Gardner Murphi : Psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya.
6.                  Kamus Psikologi (Chaplin) : Psychology as science (psikologi sebagai suatu ilmu pengetahuan) adalah ilmu mengenai tingkah laku manusia dan binatang; studi mengenai organisme dalam segala variasi dan kompleksitasnya, untuk bereaksi terhadap perubahan yang terus-menerus dan aliran dari kejadian-kejadian fisik/ragawi dan peristiwa-peristiwa sosial yang menyusun lingkungannya[1].

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Psikologi Pada Masa Yunani Kuno
Pada mulanya semua ilmu termasuk psikologi merupakan bagian dari filsafat. Sehingga ada pernyataan philosophy is the mother of science[2]. Pada masa Yunani kuno para ahli filsafat sudah lama sekali menyelidiki gejala kejiwaan. Namun, pada waktu belum ada pembuktian nyata empiris melainkan hanya dikemukakan berdasarkan argumen dan logis belaka. Pada masa ini ada dua pandangan yang oleh para sarjana Yunani Kuno, yaitu:
1. Monoisme
Menganggap bahwa jiwa dan badan adalah satu ( jiwa dan badan dari unsur-unsur yang sama dan tunduk pada hukum-hukum yang sama ) ada beberapa sarjana Yunani Kuno yang menganut pandangan seperti itu antara lain:
1.                  Thales            ( 624 – 647 SM )
2.                  Anaximander ( 610 – 646 SM )
3.                  Anaximanes  ( abad ke-6 SM )
4.                  Empeclodes  ( 493 – 533 SM )
5.                  Hipocrates    ( 160 – 377 SM )
6.                  Democritus   ( 460 – 470 SM )
2.  Dualisme
Menganggap bahwa jiwa dan badan masing-masing tunduk pada peraturan dan hukum yang terpisah.  Adapun tokoh-tokoh yang menganut pandangan ini anatara lain:
1.                  Socrates   (469 – 399 SM )
2.                  Plato        ( 427 – 447 SM )
3.                  Aristoteles ( 384 – 422 SM )
B.     Psikologi Sebagai Bagian Dari Ilmu Faal
      Psikologi sebagai bagian dari ilmu faal berawal dari keterkaitan sejumlah ahli ilmu faal terhadap gejala – gejala kejiwaan[3]. Berikut ini merupakan aliran – aliran psikologi yang berkembang dibawah pengaruh ilmu faal:
1.                  Fisiologi
Kemajuan – kemajuan dibidang fisiologis meliputi riset – riset dibidang aktivitas syaraf, sensasi, dan otak yang memberi dasar empiris bagi fungsi – fungsi yag sebelumnya dianggap fungsi dari jiwa, yang juga sebelumnya dianggap sangat abstrak. Tokoh – tokoh yang mengikuti aliran ini antara lain:
1.                  Sir Charles Bell           ( 1771 – 1855 )
2.                  Francois Magendie      ( 1783 – 1855 )
3.                  Johannes Peter Muller ( 1801 – 1858 )
4.                  Marshall Hall              ( 1790 – 1857 )
5.                  Paul Broca                  ( 1824 – 1880 )
6.                  Pierre Flourens            ( 1794 – 1867 )

2.        Psikofisiologis
Psikofisiologis adalah bagian dari disiplin ilmu fisiologi yang memfokuskan pada subjectiva experience dalam mempelajari hubungan antara stimulus fisik dan sensasinya.Sensasi yang dirasakan oleh pancaindera manusia dipandang sebagai refleksi hubungan soul – body dan tidak semata – mata dijelaskan dari sudut anatomi atau fisik saja. Psikofisiologis merupakan tahap transisi yang krusial antara bidang fisiologi dengan awal pemunculan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu. Tokoh yang mengikuti aliran ini antara lain:
1.                  Gustav Theodor fechner ( 1801 – 1887 )
2.                  Hermann Ludwig Ferdinand von Helmholtz (1821 – 1894 )
3.                  Evolusi
Evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin ( 1809 – 1882 ) merupakan tititk penting dalam pemikiran mengenai mausia karena mengajukan ide bahwa keberadaan manusia merupakan bagian dari proses adaptasi makhluk hidup dengan alam, manusia manusia bukan secara spesial diciptakan dan dengan demikian perbedaannya dengan makhluk lain hanya bersifat gradual, bukan kualitas. Pandanagan ini sangat relevan sekali bagi perkembangan psikologi dan memberikan ide mengenai individual difference, perbedaan antar individu juga sifatnya hanya gradual, bukan kualitas. Francis Galton ( 1822 – 1911 ) merupakan tokoh yang mengikuti aliran ini dan dikenal sebagai bapak psikologi eksperimental Inggris[4].

C.    Psikologi sebagai Ilmu yang Berdiri Sendiri
Pada abad ke-19, tepatnya psikologi diakui sebagai ilmu yamg berdiri sendiri Pengakuan tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa pengetahuan yang mempelajari segi kejiwaan manusia telah memenuhi syarat sebagai pengetahuan ilmiah, yaitu memiliki objek yang spesifik dan metode ilmiah. Diakuinya psikologi sebagai suatu disiplin ilmu berkat usaha yag dilakukan oleh tokoh – tokoh dibawah ini :[5]
1.      Wilhelm Wundt ( 1832 – 1920 )
Wundt mula – mula dikenal sebagai seorang sosiolog, filsuf dan ahli hukum. Pada tahun 1862 Wundt mengeluarkan sebuah buku berjudul Bitiagen Zur Theorie Der Sines Wahrenmung yang memberikan indikasi bahwa ia cenderung kepada psikologi dan pada tahun 1873 Wundt mengeluarkan buku kedua yang berjudul Grund Zuge der Physiologischen Psychologie. Masa perkembangan sistematika Wundt dibagi menjadi dalam empat periode:
1.            Tahun 1860-an periode ini disebut periode pra sistematik.
2.            Tahun 1874 – 1887, periode ini disebut sebagai fase elementisme, sensasionisme dan assosiasionisme.
3.            Tahun 1896, periode ini disebut fase Empirisme.
4.            Tahun 1902 – 1903 ,pada periode ini Wundt mengeluarkan buku ketiganya Volker Psychology yang menjadi dasar bagi psikologi sosial.
Buku ketiga yang dikeluarkan Hunt membahas tentang teori psoses mental yaitu sebuah proses mental yang lebih tinggi dari penginderaan, perasaan, dan apersepsi. Dalam teori itu Wundt mengatakan bahwa jiwa seperti air, aktif, terus berubah sehingga dapat direka dan dapat dianalisis seperti ilmu alam. Pandangan ini menyebabkan timbulnya teori aktualitas yang mengatakan bahwa jiwa adalah aktual, fenomena langsung bukan fenomena buatan. Selanjutnya dikatakan, bahwa dalam proses mental terdapat beberapa hukum yang mekanisme  dasarnya adalah asosiasi. Hukum mental tersebut antara lain:
1.      Hukum resultan psikis (the law of psychis results), yang berbunyi bahwa setiap gejala psikis yang kompleks selalu mempunyai sifat – sifat beru yang berbeda dasar elemen – elemennya.
2.      Hukum hubungan psikis (the law of psychis content), yang berbunyi bahwa sebuah elemen kesadaran hanya akan mempunyai arti  dalam hubungan dengan elemen – elemen psikis lainnya.
3.      Hukum kontras psikis(the law of psychis contents), yang berbunyi bahwa elemen – elemen yang saling bertentangan justru saling menguatkan satu sama lain.[6]
Jasa utama Wundt dalam dunia psikologi adalah usahanya untuk memperjuangkan diterimanya psikologi sebagai sebuah ilmu yang bertahan lama.

2.  Edward Bradford Tichener ( 1867 – 1927 )
Tichener adalah salah satu murid Wunt yang dianggap paling mendukung pandangan Wunt namun sebenarnya dia menentang pandangan Wuntdan mengembangkan aliran sendiri yaitu fungsionalisme.
Aliran strukturalisme mendasarkan diri pada konsap utama yaitu sensation. Berbeda dengan apersepsi yang merupakan hasil kesimpulan, sehingga masih memungkinkan subyektivitas, sensation  adalah hasil pengamatan langsung sehingga lebih obyektif.
Aliran ini tidak berkembang menjadi aliran yang besar dan menghilang bersamaan dengan wafatnya Tiechner.[7]
3.       Herman Ebinghaus ( 1850 – 1909 )
      Profesor dari Universitas Breslau dan Halle yang dianggap salah satu pelopor dan pendiri psikologi eksperimen ini merupakan orang yang pertama kali melakukan penelitian megenai proses belajar dan ingatan.
      Dalam eksperimennya tentang ingatan Ebinghaus menggunakan objek yang netral yaitu kata – kata tak berarti. Selanjutnya Ebinghaus membuat sebuah hukum, yaitu bahwa makin banyak hal yang harys dipelajari, makin banyak waktu yang digunakan untuk mempelajarinya dan ia juga berpendapat bahwa proses mengingat dan lupa terjadi secara otomatis dan mekanisme.
4.      George Elliah Muller ( 1850 – 1934 )
      Muller mengemukakan pendapatnya tentang hukum psikofisik dari hubungan antara persepsi dan rangsangan syaraf. Menurutnya, persepsi menimbulkan jejak – jejak tertentu pada otak.
      Tidak seperti Ebinghaus Muller mengatakan bahwa ingatan dan lupa tidak semata – mata mekanistis dan otomatis, tetapi ada unsur aktivis dari individu yang bersangkutan. Proses mengingat memiliki unsur aktiv karena memiliki unsur asosiasi dan lupa dikarenakan adanya unsur hambatan retroaktif.
5.        Oswald Kulpe ( 1862 – 1915 )
      Kulpe merupakan seorang sejarawan yang kemudian pindah ke psikologi setelah belajar pada Wundt dan G.E.Muller.Pada tahun 1894 ia menjadi profesor di Wursburg dan tahun 1896, ia mendirikan laboraturium yang kemudian menjadi pusat kegiatan aliran psikologi wurzburg.
      Kulpe meletakkan dasar – dasar studi tentang proses berpikir.Ia mengemukakan bahwa proses berpikir tidak terikat penginderaan dan dapat diselidiki secara eksperimental.
D.    Perkembangan Psikologi
      Kemajuan psikologi semakin pesat dengan semakin banyaknya tokoh – tokoh baru, misalnya Skinner, Maslow, Roger Wolcott, Albert Bandura, daniel Goleman, Howard Gadner dan sebagainya, dan perkembangan psikologi sekarang menuju psikologi kontemporer sesuai dengan perkembangan zaman, muncul teori – teori baru dan aliran –aliran baru.[8] Di Indonesia pun saat ini pendidikan psikologi sudah distandardisasi dan berada dibawah kontrol Departemen Nasional. Izin praktik untuk para psikolog berada dibawah kontrol HIMPSI dan departemen tenaga kerja HIMPSIberdiri sejak tahun 1998 – 1999 yang sudah memiliki beberapa divisi,  antara lain: IPO, IPS, APIO dan API.[9]
ILMU PENGETAHUAN MODERN
1.      Pengertian dan Macam-macam Ilmu Pengetahuan Modern
            Ilmu adalah “pengetahuan tentang sesuatu hal yang disusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk menerangkan  gejala-gejala  pada hal tersebut” (Salim, 1991: 557). Sedangkan pengetahuan adalah  “kepandaian, yaitu segala sesuatu yang diketahui”(Salim, 1991: 1057). Sementara itu, modern berarti “terbaru; mutakhir, biasanya lebih baik dari yang lama”(Salim, 1991: 989).
            Ilmu pengetahuan adalah hasil usaha manusia dengan kekuatan akal budinya dalam memahami alam semesta. Bercirikan adanya objek, metode, dan sistem. Ilmu pengetahuan bertujuan mencari kebenaran tentang objeknya walaupun kebenaran disini masih relatif, sebab manusia yang menghasilkannya juga  relatif.
             Jadi, ilmu pengetahuan modern adalah gabungan dari beberapa disiplin ilmu yang disusun secara  sistematis dan logis dan merupakan perkembangan dari ilmu yang pernah ada. Hanya saja cara menampilkan penemuannya lebih didasari oleh teori mutakhir (Zaini, 1996: 152).
            Ilmu pengetahuan modern  yang dikuasai oleh manusia banyak ragam dan macamnya. Sudah dipastikan ilmu-ilmu  tersebut semakin berkembang dengan pesat sesuai dengan tuntutan zaman dan keinginan manusia untuk terus berkembang dan maju.
2.      Sejarah Perkembangan Modern

            Timbulnya ilmu pengetahuan modern di Eropa terhitung sejak diterbitkannya buku De Revolusionibus Orbium Coeletium karya Nicola Copernic, (1543 M) seorang ahli hukum.  Nicola lahir di Polandia  dan setelah mendapatkan wawasan  tentang ilmu pengetahuan medorn tersohor sebagai ahli astronomi  di abad XVI, kemudian diikuti oleh ilmuan lainnya, seperti Tyche Barehe, Johanes Cepler, Galile Galelio, dan lain sebagainya (Mangkudun, 1983: 112)

Kemudian Mangkudun (1983:113-121) menerangkan bahwa di negeri timur dan spanyol, jauh sebelum abad XVI sarjana-sarjana islam sudah menulis buku-buku tentang bermacam-macam ilmu pengetahuan modern, seperti yang pernah dibahas oleh ilmuwan-ilmuwan islam terdahulu, antara lain :
a.       Al-Jahizh (635 M) menulis ilmu bintang dan kedokteran dalam bukunya al-Bayan wa at-Tibyan.
b.      Ibnu Khaldun menulis tentang kimia dan kedokteran dalam bukunya al-Hararah, Shahifah al-Kubra dan al-Wasiah.
c.       Jabir bin Hayyan (760-850), pernah menulis beberapa penemuan dalam bidang kimia dan fisika dalam bukunya al-Kahwasu al-kabir, sirru al-Makmun dan al-Mawazin.
d.      Abu Ja’far Shadiq, lahir di Irak pada abad ke VII menulis tentang cara membuat emas dari logam yang lebih rendah nilainya dalam bukunya Ilmu al-Muktasab fi Zira’ah adz-Dzahab.
e.       Abu Bakar ar-Razy adlah seorang dokter  yang banyak menulis buku-buku tentang kedokteran . Salah satu bukunya adalah alHawi.
            Menurut Roger Garaudy, dalam bukunya Promesse de L’Islam ( Janji-janji Islam ) yang dikutip oleh Zaini (1995:153-154) menyatakan bahwa, penyebab ilmu pengetahuan menjadi perusak kehidupan manusia itu antara lain: “ Ilmu sekarang ini sudah menemui jalan buntu sehingga ilmu pengetahuan manusia sekarang ini sudah melepaskan diri dari Tuhan. Ilmu filsafat Barat mulai dari Yunani sampai yang modern sekarang ini hanya mengungkung diri dalam batas manusia dan alam saja, tidak mengenal Tuhan. Padahal kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari hubungan dengan alam dan Tuhan bahkan manusia tidak dapat menjadi manusia yang sesungguhnya kecuali dengan tunduk kepada Tuhan. Karena itu satu-satunya jalan yang harus di tempuh untuk mengatasi krisis ilmu pengetahuan manusia tersebut ialah jalan yang di bentangkan dalam Islam ”.[10]

E.     Kedudukan Ilmu Pengetahuan Modern
Secara umum ilmu dalam Islam memiliki kedudukan tertinggi setelah iman. Allah berfirman dalam surat Al-Mujadilah ayat ke-11:… Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…
( Q.S. Al-Mujadalah;11 ). Raslullah saw bersabda: “ Menuntut Ilmu adalah fardhu atas setiap muslim laki-laki maupun perempuan “.
         Muhammad ( 1984;54 ) berpendapat bahwa posisi ilmu dalam Islam adalah sangat sentral. Vitalitas dan keutamaan ilmu terumgkap dalam sanjungan dan kehormatan yang diberikan kepada para ilmuwan, tersirat dalam wahyu pertama yang diterima Rasulullah saw yang berupa kunci ilmu, yakni  “ membaca “ tercermin dalam ajaran Islam bahwa derajat taqwa hanya dapat dicapai bagi oarang yang berakal. Dan Tersurat dalam peringatan bahwa ketiadaan ilmu ( kebodohan ) akan menyesatkan, serta tegas dinyatakan bahwa menuntut ilmu itu wajib dan berlaku seumur hidup.
         Thanthawi dari segi hukum mengelompokkan ilmu dalam kedua bagian sebagai berikut:
a.  Fardhu ‘ain, dikhususkan bagi mereka yang dikaruniai kelebihan dari tingkat ketelitian menganalisis, kecerdasan dan kecerdikan.
b. Fardhu Kifayah, bagi seluruh umat islam untuk menuntut ilmu dalam semua aspek kehidupan . Jika dalam satu umat islam tidak ada yang menguasai ilmu tersebut maka berdosalah mereka.
         Islam menurut Thanthawi bukan sekadar agama tauhid yang mengedepankan hati nurani, tetapi ia juga adalah agama akal yang memosisikan ilmu pada tingkat yang tinggi dan sebagai tulang punggung kemajuan sebuah peradaban sangat relevan dengan perkembangan umat saat ini ( Qardhawi, 1976;68 ).[11]








BAB III
KESIMPULAN
      Psikologi sebelumnya merupakan bagian dari Filsafat. Pada abad ke-19 barulah psikologi menjadi ilmu yang berdiri sendiri.  Adalah Wundt yang membuat psikologi menjadi ilmu yang berdiri sendiri dan Wundt membuat tiga buah buku yang memberikan teori – teori yang menjadi perkembangan bagi ilmu psikologi.
      Pada abad ke-20 barulah muncul aliran – aliran dan tokoh – tokoh psikologi. Hingga akhirnya psikologi menjadi ilmu yang seperti sekarang ini.


[2]  id.wikipedia.org/wiki/Psikologi.

[3]  Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspekti  Islam, (Jakarta : Kencana Prenada Media Groub, 2004 ) hal 7 – 19

[4]  http://www.psychologymania.com/2011/09/defenisi-dan-sejarah-perkembangan-ilmu.html

[5]  id.wikipedia.org/wiki/Psikologi

[6]  Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, (Jakarta : Kencana Prenada Media Groub, 2004 ) hal 27 - 31

[7]  http://www.psychologymania.com/2011/09/defenisi-dan-sejarah-perkembangan-ilmu.html

[8]  http://www.psychologymania.com/2011/09/defenisi-dan-sejarah-perkembangan-ilmu.html

[9]  Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, (Jakarta : Kencana Prenada Media Groub, 2004 ) hal 38


[10]  Rafy Safui, M.si. Psikologi Islam “ Tuntunan jiwa manusia modern “, ( Banten: PT RajaGrafindo Persada, 2008), hal.11-16
[11] Rafy Safui, M.si. Psikologi Islam “ Tuntunan jiwa manusia modern “, ( Banten: PT RajaGrafindo Persada, 2008), hal.19-21
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Situs-situs Terkait

Music

 
Support : Muhammad Arwani Proudly powered by Blogger
Copyright ; 2012. Agama tanpa ilmu pengetahuan akan buta - All Rights Reserved
Copright SMK Manba'ul Huda Published by Blogger